Abstract :
Gidalti Petrus, NIRM 2020154030, Jurusan Teologi dengan judul skripsi:
?Kajian Teologis Tentang Budaya Lere di Seko Embonatana?. Dibimbing
oleh Dr. Joni Tapingku M.Th. dan Algu Sambi Pabangke M.Pd.
Manusia adalah ciptaaan Tuhan yang paling mulia, karena itu manusia
dibekali akal budi untuk hidup menjalankan mandat dari Sang Pencipta. Dengan akal budi yang diberikan Tuhan kepada manusia sehingga mampu menciptakan kebudayaan yang didalamnya mengekspresikan keagungan Tuhan dan juga merupakan identitas suatu komunitas untuk hidup bersatu dan rukun. Penelitian ini dimaksudkan untuk menghidupkan kembali makna teologis yang terkandung dalam budaya Lere sebagai salah satu budaya masyarakat Seko yang menghubungkan manusia dengan Tuhan sebagai pencipta dari kebudayaan itu sendiri. Hak tersebut menjadi dasar bagi penulis untuk mengkaji makna terdalam yang terkandung dalam budaya Lere yang saat ini mulai hilang ditengah-tengah kehidupan masyarakat Seko yang diakibatkan oleh beberapa faktor seperti masuknya agama-agama modem (Agama Kristen dan Islam) yang menggeserkan nilai yang mengikat tali persaudaraan dan kerukunan diantara masyarakat Seko.
Adapun makna teologis yang terkandung dalam syair Lere adalah ungkapan
syukur dan pujian masyarakat Seko atas berkat dan pemeliharaan Dehata (Tuhan) yang diwujudkan melalui lantunan pujian syair Lere.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan
melakukan penelitian pustaka dan penelitian lapangan melalui observasi dan
wawancara kepada tokoh adat, tokoh masyarakat, majelis Jemaat Gereja Toraja Ebenhaezer Amballong dan anggota jemaat gereja Toraja jemaat Ebenhaezer Amballong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan Lere memiliki makna teologis yakni ungkapan syukur kepada Tuhan melalui lantunan pujian yang mesti dijaga dan dikembangkan sebagai wujud kecintaan terhadap budaya yang dapat mempersatukan antara satu dengan yang lain sebagai masyarakat yang Seko dan juga nampak adanya kontekstualisasi antara agama dan kebudayaan.