Abstract :
Kornelius , 2002; Anggur Lama Dalam Kirbat Baru, Kajian
Teologis-Historis Mengenai Pelapisan Sosial Dan Dampaknya
Bagi Gereja Toraja. Tulisan ini berangkat dari salah satu
masalah masyarakat Toraja yang dominan, baik pada masa
zeding bekerja di Toraja sampai pada masa sekarang ini.
Masalah tersebut adalah pelapisan sosial. Menjadi masalah
karena dewasa ini masyarakat Toraja dan Gereja Toraja yang
sudah berada dalam masa modern masih terpengaruh kuat oleh
hal yang dimaksud sehingga mengusahakan keadilan sosial
terasa sulit. Dari latar belakang masalah tersebut
dilakukanlah kajian histories untuk menjawab mengapa hal
demikian masih terjadi, yaitu dengan menganalisa kembali
bagaimana para pekerja zending di Toraja (GZB) telah
menyikapi masalah tersebut pada masa mereka bekerja di
Toraja. Kemudian dianalisa bagaimana sikap mereka
berdampak bagi gereja Toraja.
Dari penelitian dan analisa yang dilakukan disimpulkan
bahwa zending GZB cenderung mempertahankan pelapisan
sosial di Toraja. Lebih penting dan mendesak untuk
mengabarkan injil yaitu mengkristenkan orang Toraja dari
pada mengusahakan keadilan di Toraja. Bahkan ada
kecenderungan zending untuk "menjinakkan" pesan Injil dan
menyelaraskan dengan selera para bangsawan. Namun, pada
sisi yang lain zending GZB juga telah menciptakan ruang
yang kemudian dimanfaatkan orang Toraja untuk
beremansipasi. Yang dimaksud adalah pendidikan dan
perubahan pada ritual orang Toraja. Dampaknya mudah
ditebak; pelapisan masyarakat Toraja pra-zending tetap
bertahan dalam masyarakat dan komunitas Kristen yang
diciptakan zending. Komunitas Kristen yang kemudian
melembaga dalam Gereja Toraja juga dipengaruhi oeh pola-
pola pelapisan sosial masyarakat, baik dari segi
kepemimpinan, organisasi dan pola pelayanan gereja
tersebut. "Kirbat baru itu masih diisi anggur lama".