DETAIL DOCUMENT
Massiala Tedong Taa Baine: Studi Teologi Feminis Budaya terhadap Tradisi Massiala Tedong Taa Baine di Dende’ Toraja Utara
Total View This Week0
Institusion
INSTITUT AGAMA KRISTEN NEGERI TORAJA
Author
Paelongan, Adelia
Subject
BV Practical Theology 
Datestamp
2024-09-02 08:55:54 
Abstract :
ABSTRAK Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan studi kritis terhadap tradisi massiala tedong taa baine yang terdapat di Dende?,Toraja Utara. Di mana dalam penelitian yang dilakukan hendak melihat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang ada dalam rambu solo? khususnya tradisi tersebut. Massiala tedong taa baine merupakan kegiatan yang khusus dilakukan oleh kaum perempuan, dengan cara memperebutkan satu ekor kerbau yang sudah menjadi bagiannya. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnometodologi merupakan metode penelitian yang digunakan oleh penulis. Hasil penelitian diperoleh dengan teknik wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Penulis menggunakan perspektif Elisabeth Schussler Fiorenza sebagai teori teologi feminis dan perspektif Adrienne Rich sebagai teori feminis budaya. Penelitian ini menemukan bahwa tradisi massiala tedong taa baine dari makna dan praktiknya baik itu yang dilaksanakan dahulu maupun setelah mengalami perubahan memiliki dampak bagi kaum perempuan. Pada satu sisi tradisi ini mengandung nilai yang memberikan dukungan agar kaum perempuan memperoleh kesetaraan dengan kaum laki-laki. Namun pada sisi lain menunjukkan sikap diskriminasi atau subordinasi bagi kaum perempuan. ABSTRACT The purpose of this writing is to describe a critical study of the massiala tedong taa baine tradition found in Dende', North Toraja. Where the research carried out wanted to look at the equality between men and women in rambu solo', especially this tradition. Massiala tedong taa baine is an activity specifically carried out by women, by fighting over a buffalo that has become their share. Qualitative research methods with an ethnomethodological approach are the research methods used by the author. The research results were obtained using interview techniques as a data collection technique. The author uses Elisabeth Schussler Fiorenza's perspective as a feminist theological theory and Adrienne Rich's perspective as a cultural feminist theory. This research found that the massiala tedong taa baine tradition, in terms of its meaning and practice, both carried out before and after undergoing changes, has an impact on women. On the one hand, this tradition contains values that provide support for women to achieve equality with men. However, on the other hand, it shows an attitude of discrimination or subordination towards women. Keywords: Feminist, Critical, Massiala Tedong, Toraja, Tradition 
Institution Info

INSTITUT AGAMA KRISTEN NEGERI TORAJA