Abstract :
ABSTRAK
musik Strem Bass di Jemaat Pambe. Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan fakta yang jelas, akurat dan faktual mengenai eksistensi alat musik
Strem Bass di jemaat Pambe, serta memaparkan beberapa kendala yang dihadapi
jemaat sehingga alat musik ini tidak digunakan dalam peribadahan ketika sinode
Gereja Toraja Mamasa sudah memberikan ruang bagi jemaat-jemaat dalam
naungannya untuk dapat melaksanakan peribadahan sesuai dengan budaya dan
bahasa setempat dimana jemaat itu berada. Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu
mendeskripsikan awal mula alat musik Strem Bass dikenal di masyarakat hingga
dapat menjadi alat musik yang digemari di Jemaat dan masyarakat, serta
kendala-kendala penggunaannya dalam ibadah. Metode penelitian yang
digunakan yaitu metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi dan
wawancara yang melibatkan beberapa majelis gereja Jemaat Pambe dan pembuat
serta pemain alat musik Strem Bass. hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa
alat musik Strem Bass memiliki kedudukan yang istimewa di masyarakat dan
jemaat Pambe melebihi alat-alat musik modem. Eksistensi alat musik strem Bass
juga memenihintiga tahapan eksistensi menurut Kieerkegaard, yakni eksistensi
estetis, etis, dan religius. Jemaat pun berkerinduan menggunakan alat musik ini
untuk mengiringi nyanyian jemaat. Namun karena segala keterbatasan dan yang
ada hal itu belum dapat direalisasikan. Melalui penelitian ini, penulis
menemukan kendala utama yang menyebabkan alat musik Strem Bass tidak
dapat digunakan dalam ibadah sehingga tidak dapat merealisasikan liturgi
model IH, liturgi bernuansa lokal.
Kata kunci: Eksistensi, Musik, Strem Bass, Liturgi
ABSTRACK
Strem Bass musical Instruments at the Pambe Congregation. This
research aims to obtain clear, accurate andfactualfacts regarding the existence of
the Strem Bass musical instrument in the Pambe congregation, as well as
explaining several obstacles faced by the congregation so that this musical
instrument is not used in worship when the Toraja Mamasa Church synod has
provided space for the congregation in its auspices are to be able to carry out
worship in accordance with the local culture and language where the congregation is located. This research is descriptive in nature, namely describing the beginnings ofthe Strem Bass musical instrument being known in the community until it became a popular musical instrument in the congregation and society, as well as the obstacles to its use in worship. The research method used is a qualitative research method with observation and interview techniques involving several Pambe Congregation church councils and makers and players of Strem Bass musical instruments. The results of this research show that the Strem Bass musical instrument has a special position in the Pambe community and congregation more than modem musical instruments. The existence of Bass
strum musical instruments also fulfills the three stages of existence according to
Kieerkegaard, namely aesthetic, ethical and religious existence. The congregation also longs to use this musical instrument to accompany the congregation's singing. However, due to dll existing limitations, this cannot be realized. Through this research, the author discovered the main obstacle that caused the Strem Bass musical instrument to not be used in worship so that it could not realize model III. liturgy, a liturgy with local nuances.
Keywords: Existence, Music, Strem Bass, Liturgy.