Abstract :
ABSTRAK
Joice Bura Kaban (2020164899), menyusun skripsi dengan judul Kajian
Teologis Tentang Makna Ritus Ma?karu?dusan dalam Aluk Rambu Solo9 di
Jemaat Batusura? Klasis Rembon Sado?ko? di bawah bimbingan Bapak Dr. Rannu Sanderan, M.Th dan Bapak Habel Kombongkila?, S.Th, M.Sn.
Pemilihan topik ini karena penulis ingin mengetahui makna dari pelaksanaan
ritus ma?karu?dusan dalam aluk rambu solo?. Ritus ma?karu?dusan merupakan suatu ritus peralihan yang membalikkan kehidupan kepada kematian atau suatu ritus yang menentukan seseorang itu akan dianggap benar-benar telah mati. Ritus ini merupakan suatu ritus yang diadopsi dari praktik Aluk Todolo yang masih dilakukan oleh orang Kristen. Berdasarkan pernyataan itu penulis ingin mengetahui apa makna teologis dari pelaksanaan ritus ma?karu?dusan dalam aluk rambu solo? di Jemaat Batusura?
Klasis Rembon Sado?ko?. Penulisan ini dirampungkan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yakni dengan melakukan observasi dan wawancara. Lokasi penelitian di Jemaat Batusura? Klasis Rembon Sado?ko? yang berada Lembang Batusura? Kecamatan Rembon. Untuk memperoleh informasi sekaitan dengan penelitian ini maka penulis memilih informan yang terdiri dari 3 orang Pemangku adat, 1 orang Pendeta, 2 orang Penatua dan 1 orang anggota jemaat. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sampai hari ini praktik ritus ma?karu?dusan masih dilakukan namun telah mengalami pergeseran makna yang disesuaikan dengan ajaran Kristen. Jika dulu seseorang barulah akan dikatakan benar-benar mati jika ritus ini dilaksanakan maka ketika telah ditransformasikan sesuai dengan ajaran kekristenan maka ritus ini merupakan suatu praktik wujud pemeliharaan adat dan kebudayaan yang secara teologis mengandung makna sebagai suatu ibadah penghiburan kepada keluarga dan kesiapan keluarga untuk
melangsungkan prosesi pemakaman terhadap mendiang sehingga segenap rumpun keluarga dan kerabat dapat datang untuk berbagi duka. Sejatinya manusia telah mengalami kematian seutuhnya atau benar-benar mati kama dosa dan ketika seseorang sudah tidak bernapas lagi serta tubuhnya sudah kaku maka saat itu juga ia telah dikatakan mati. Tubuh akan kembali menjadi debu tanah sementara itu roh dan jiwa akan kembali kepada sang pencipta yaitu Allah (Pkh. 12:7).