Abstract :
Permusuhan dalam kehidupan berjemaat tidak dapat
dihindari. Permusuhan tersebut dapat terjadi karena adanya
kesalahpahaman, peristiwa yang terjadi di masa lalu seperti
perebutan batas tanah dan perselingkuhan. Akibatnya, banyak
anggota jemaat yang saling memusuhi dan tidak lagi mengikuti
ibadah-ibadah di rumah orang yang mereka anggap sebagai
musuh, tidak bersalaman dan tidak berbicara satu sama lain. Oleh
karena itu, penting memiliki pemahaman mendalam tentang
mengasihi musuh dalam kehidupan berjemaat. Sehingga anggota
jemaat menyadari bahwa pentingnya saling mengasihi dalam
sebuah persekutuan, terlebih mengasihi mereka yang telah
melakukan perbuatan yang menyakiti yaitu musuh.
Dalam menyelesaikan tulisan ini, metode yang digunakan
adalah metode penelitian kualitatif yang data-datanya diperoleh
melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dalam penelitian
lapangan serta studi pustaka. Jumlah informan dalam penelitian ini
adalah 11 orang. Selain itu, metode penafsiran yang digunakan
adalah penafsiran gramatikal-historis yang memperhatikan tata
bahasa, kata, kalimat, dan kebudayaan dalam sebuah teks.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan
mendeskripsikan makna kasihilah musuhmu yang diperintahkan
oleh Yesus dalam Injil Lukas 6:27-36 dan melihat penerapannya
dalam kehidupan berjemaat di Gereja Toraja Jemaat Bethel Bumi
Harapan Klasis Baebunta Selatan. Melalui tafsiran dalam
penelitian ini, makna kasihilah musuhmu adalah mengasihi tanpa
syarat dan tidak memperhitungkan yang dilakukan oleh orang lain
termasuk hal yang menyakiti. Berdasarkan hasil penelitian, dua hal
yang dilakukan oleh anggota Jemaat Bethel Bumi Harapan dalam
mengasihi musuh yaitu mendoakan musuh agar menyadari
kesalahan yang telah dilakukan dan memberi kepada musuh.
Namun hal itu belum maksimal, sebab sebagian dari anggota
jemaat tidak berkomunikasi satu sama lain, dan tidak mengikuti
ibadah-ibadah yang dilakukan di rumah musuh.
Kata Kunci: Mengasihi, musuh, gereja, jemaat, persekutuan.