Abstract :
Grisilia Isabella Madao, menulis skripsi dengan judul Hari Tuhan, dengan
sub tema Hermeneutika Zefanya 1:14-15 Tentang Hari Tuhan Dan Implikasinya
Bagi Gereja Masa Kini. Penelitian ini memperjelas tentang makna Hari Tuhan
secara khusus dari sudut pandang kitab Zefanya. Hari Tuhan menjadi sebuah
ungkapan yang telah dikenal secara umum namun masih belum dipahami secara mendalam. Berangkat dari hal inilah, kajian tentang Hari Tuhan sangat diperlukan untuk lebih memahami maknanya serta implikasinya bagi kehidupan masa kini. Penelitian dalam tulisan ini mengkaji tentang makna Hari Tuhan menurut kitab Zefanya dan lebih khusus lagi dalam Zefanya 1:14-15. Masalah yang dikaji adalah bagaimana pemahaman Hari Tuhan melalui nubuat yang disampaikan oleh nabi Zefanya. Melalui hermeneutik Zefanya 1:14-15 diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai penghakiman yang akan terjadi saat Hari Tuhan itu tiba. Nabi Zefanya dengan seruan yang tegas menyampaikan bahwa Hari Tuhan itu sudah dekat, hari kegemasan hari itu, hari kesusahan dan kesulitan, hari kemusnahan dan pemusnahan, hari kegelapan dan kesuraman, hari berawan dan kelam. Seruan yang disampaikan oleh nabi Zefanya ini dengan sangat tegas ditujukan untuk mengkritik pola hidup masyarakat Yahudi pada saat itu yang sudah terlalu banyak berbuat dosa dan tidak lagi taat kepada perintah Tuhan. Dari keseluruhan kitab Zefanya ini dapat dipahami bahwa nabi Zefanya tidak hanya menyerukan tentang penghukuman saat Hari Tuhan itu tiba, namun nabi Zefanya juga menyerukan bagi bangsa Yahudi untuk melakukan pertobatan, bahwa ada janji pemulihan saat Hari Tuhan itu tiba bagi yang mau bertobat dan melakukan perintah Tuhan. Pemahaman mengenai Hari Tuhan menurut nabi Zefanya ini menjadi titik tolak untuk melihat bagaimana implikasi Hari Tuhan bagi gereja masa kini. Kondisi kehidupan masyarakat dimana nabi Zefanya hidup sangat konteks dengan kondisi kehidupan gereja masa kini. Kehidupan masyarakat yang tidak takut lagi berbuat dosa, penyakit sosial, kemiskinan, peperangan, kelaparan, pembunuhan, dan berbagai persoalan lainnya telah mewarnai kehidupan gereja saat ini. Gereja pada masa kini harus dengan tegas menyerukan pertobatan jika tidak ingin ditimpa penghukuman serta pengharapan dan janji pemulihan saat Hari Tuhan tiba. Jika sekiranya Hari Tuhan lebih dimaknai lagi oleh gereja pada masa kini, maka gereja harus berani bersuara menyatakan kritik terhadap persoalan tersebut, terlibat langsung dalam persoalan-persoalan sosial, hadir memberi semangat bagi
mereka yang miskin dan tertindas, memberi makan bagi yang lapar dan memberi minum bagi yang haus sehingga gereja sungguh-sungguh akan menghadirkan damai sejahtera di tengah-tengah dunia.