Abstract :
Petta Oti Tampang Allo. Kajian Teologi-Pedagogis Terhadap Model
Kebersesamaan Masyarakat Kecamatan Wasuponda Kabupaten Luwu Timur dan
Relevansinya Bagi Pengembangan PAK Kontekstual (di bawah bimbingan Dr. I
Made Suardana, M. Th. dan Dr. Joni Tapingku, M. Th.). r'
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah
pendekatan atau metode penelitian kualitatif, dengan menggunakan melakukan
deskriptif kualitatif, peneliti berupaya untuk menggambarkan, menganalisis, serta
menginterpretasikan kesatuan-kesatuan dari variabel-variabel yang diteliti,
melalui pengamatan terhadap fakta-fakta yang berkaitan dengan pokok
permasalahan yang terdapat dalam masyarakat, dalam hal ini model
kebersesamaan masyarakat kecamatan Wasuponda Kabupaten Luwu Timur.
Sedangkan tujuan penelitian dari tesis ini adalah, mendeskripsikan model
kebersesamaan antar masyarakat berbeda agama di kecamatan Wasuponda
tersebut dan mengkajinya secara teologis-pedagogis model kebersesamaan
tersebut, serta kemudian menguraikan relevansinya bagi praksis Pendidikan
Agama Kristen.
Realitas kemajemukan dalam masyarakat Kecamatan Wasuponda Kabupaten
Luwu Timur, menurut penelitian ini, sudah seharusnya tidak dikelolah lagi dengan
model kebersesamaan yang eksklusivistik, sebagaimana yang telah menjadi model
kebersesamaan yang selama ini dihidupi oleh masyarakat tersebut. Model
kebersesamaan yang eksklusivistik itu mesti ditransformasi dan dilampaui dengan
mengakomodir secara sadar dan konsisten model kebersesamaan yang pluralis.
Pendidikan Agama sebagai salah satu sarana transformasi masyarakat, sudah
semestinya menjadikan kemajemukan agama sebagai realitas masyarakat
Wasuponda itu sebagai konteks gumulnya. Karena itu, memberikan porsi
pendidikan agama dengan wawasan pluralis (bacajuga: multikultural) dalam
sistem pendidikan agama dipandang perlu, agar peserta didik bahkan guru agama
di sana, memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan masalah-masalah
sosial yang berakar pada perbedaan agama, suku, dan tatanilai yang teijadi pada
lingkungan masyarakat tersebut.
Kajian teologis-pedagogis yang didasarkan pada perintah cinta kasihYesus,
menuntut semua orang Kristen (baca:umat Kristen di kecamatanWasuponda)
untuk mampu mengasihi, menolong, dan menghargai sesamanya manusia dengan
tidak diskriminatif, tidak membeda-bedakan, entah berdasarkan SARA, atau apa
saja. Perbedaan agama, atau perbedaan apupun itu, seharusnya tidak lagi menjadi
pembatas bagi pengamal perintah cinta kasih Yesus untuk menjadikan sesamanya
sebagai saudaranya. Inilah yang menjadi semangat, ruh yang menuntun, bahkan
menuntut setiap pengamal perintah cinta kasih dalam membangun
kebersesamaannya yang pluralis dan sekaligus dasar bagi praksis Pendidikan
Agama Kristen di sekolah-sekolah yang ada di Wasuponda yang majemuk itu.
Kata-kata kunci: Pendidikan Agama Kristen, Kebersesamaan, Eksklusivisme,
Inklusivisme, Pluralisme, Cinta Kasih, dan Persaudaraan Sejati.
ABSTRAC