Abstract :
Pemahaman mengenai roh orang mati menjiwai pelaksanaan ritual
kematian dalam setiap aliran kepercayaan bahkan turut mempengaruhi perilaku
kehidupan penganutnya. Hal ini juga dijumpai di Mamasa dalam kepercayaan
aluk Tomatua yang meyakini bahwa roh manusia tidak mati melainkan menjadi
dewa leluhur yang disebut to membali dewata atau menjadi tuhan yang diyakini
memberi berkat bagi keluarga yang masih hidup. Keyakinan tersebut
mengharuskan keluarga yang masih hidup melakukan pemotongan hewan
sebagai sesajian diperuntukkan bagi orang mati. Pemahaman dan praktik hidup
yang tersimpul dalam konsep to membali dewata pada kenyataannya masih
dijumpai dalam kehidupan warga Gereja Toraja Mamasa hingga kini. Hal ini
terjadi karena ungkapan to membali dewata seringkali disejajarkan dengan
kesaksian Pengkhotbah 12:7. Karena itu dipandang perlu mengkaji Pengkhotbah
12:7 untuk menangkap makna sesungguhnya tentang roh manusia ketika mati,
apakah narasi roh kembali kepada Allah mengandung pemahaman yang sama
dengan konsep to membali dewata bahwa roh tidak mati?
ABSTRACT
Understanding the spirits of the dead animates the implementation of death
rituals in every religious sect and even influences the life behavior ofits adherents. This is also found in Mamasa in the Tomatua aluk belief which believes that the hunian spirit does not die but becomes an ancestral god who is called to bali dewata or becomes a god who is believed to give blessings to the surviving family. This belief requires that the surviving family slaughter the animal as an offeringfor the dead. The understanding and
life practices that are summarized in the concept of bringing the gods to life are in fact still found in the lives of Toraja Mamasa Church residents to this day. This happens because the expression to redeem the gods is often equated with the testimony of Ecclesiastes 12:7. Therefore, it is deemed necessary to study Ecclesiastes 12:7 to grasp the true meaning ofthe human spirit when it dies. Does the narrative ofthe spirit returning to God contain the same understanding as the concept of returning to the gods that the spirit does not die?