Institusion
INSTITUT AGAMA KRISTEN NEGERI TORAJA
Author
Pasongli, Eodia Lesley
Subject
HN Social history and conditions. Social problems. Social reform
Datestamp
2025-02-11 15:25:48
Abstract :
Tradisi mantunu merupakan salah satu prosesi dalam pelaksanaan
upacara rambu solo, namun dalam pelaksanaannya ada keluarga yang
merasa terbebani. Perasaan terbeban ini dapak berakibat terhadap
kesehatan mental. Dan melalui tulisan ini penulis menganalisa pengaruh
tradisi mantunu dalam upacara rambu solo terhadap kesehatan mental
masyarakat di Sangalla'. World Healty Organitation (WHO) menjelaskan
bahwa kesehatan mental merupakan keadaan seseorang yang bebas dari
ketegangan dan kecemasan.
Namun pada realitanya menurut hasil penelitian yang penulis
lakukan, sebagian besar pelaksana upacara rambu solo, mengalami
kecemasan bahkan mengalami gangguan pikiran, perilaku dan perasaan
yang termanifestasikan dalam bentuk sekumpulan gejala. Salah satu
penyebab tidak sehatnya keadaan mental adalah karena pelaksana motivas
pelaksanaan tradisi mantunu yang memaksakan keadaan pelaksana
upacara rambu solo, seperti motivasi pelaksanaan karena faktor gengsi.
Faktor gengsi ini membuat keluarga pelaksana melakukan upacara rambu
solo diluar kemampuan, atau adanya ketidak mampuan menyesuaikan
diri. Orang yang berada dalam keadaan mental tidak sehat ini, memerlukan
pendampingan oleh karena perasaan beratnya beban hidup yang mereka
alami. Kata kunci: Tradisi mantunu, Kesehatan Mental dan Pendampingan Pastoral.
ABSTRACT
The mantunu tradition is one of the processions in carrying out the
Rambu Solo' ceremony, but in its implementation there are famihes who feel
burdened. This feeling of burden can have an impact on mental health. And
through this article the author analyzes the influence of the mantunu
tradition in the Rambu Solo' ceremony on the mental health of the people in
Sangalla'. The World Health Organization (WHO) explains that mental
health is a person's condition that is free from tension and aredety.
However, in reality, according to the results of research conducted
by the author, the majority of those who carry out the Rambu Solo' ceremony
experience arodety and even experience disturbances in thoughts, behavior
and feelings which are manifested in the form of a collection of symptoms.
One of the causes of an unhealthy mental State is because the motivation for
implementing the Mantunu tradition imposes on the condition of the
implementer of the Rambu Solo' ceremony, such as the motivation for
implementing it is due to the prestige factor. This prestige factor makes the
implementing family carry out the Rambu Solo' ceremony beyond their
capabilities, or because they are unable to adapt. People who are in an
unhealthy mental State need assistance because they feel the heavy burden
of life they are experiencing.
Keywords: Mantunu tradition, Mental Health and Pastoral Assistance.