Abstract :
Perdamaian merupakan sarana untuk menjembatani konflik, konflik
adalah perselisihan atau kesalahpahaman antara dua pihak maupun kelompok.
Konflik dapat terjadi karena adanya pihak yang merasakan ketidakadilan ,
tersolimi dan mengalami kekerasan. Perdamaian adalah sesuatu yang selalu
diperjuangkan oleh manusia agar tercipta kerukunan dalam masyarakat. Ada
banyak cara yang ditempuh oleh manusia agar perdamaian dapat tercipta dalam
masyarakat. Pendekatan budaya merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh
masyarakat untuk menghadirkan perdamaian. Hal demikian dilakukan oleh
masyarakat di Kecamatan Sesenapadang Kabupaten Mamasa dalam
menyelesaikan konflik. Pendekatan budaya dipandang sebagai pendekatan yang
efektif untuk menghentikan konflik. Ritual ma'renden tedong merupakan
pendekatan budaya yang digunakan oleh mediator untuk menyelesaikan konflik
dan menghadirkan perdamaian. Ma'renden tedong adalah denda yang diberikan
kepada pihak yang bersalah sebagai bentuk pengakuan dosa dan sebagai simbol hadirnya perdamaian. Dalam skripsi ini penulis berfokus pada ritual ma'renden tedong sebagai pendekatan budaya untuk menghadirkan perdamaian. Melalui perspektif teori perdamaian Johan Galtung untuk melihat perdamaian dalam ritual ma'renden tedong di Kecamatan Sesenapadang Kabupaten Mamasa. Kata kunci : Perdamaian, Budaya, Konflik, Ma'renden Tedong dan Johan Galtung.
ABSTRACT
Peace is a means to bridge conflict. Conflict is a dispute or misunderstanding
between two parties or groups. Conflicts can occur because there are parties who feel injustice, are tortured and ezperience violence. Peace is soniething that hunians always strivefor in order to create harmony in society. There are many ways taken by hunians so that peace can be created in society. The cultural approach is one way that is used by the community to bring peace. This was done by the community in Sesenapadang District, Mamasa Regency in resolving conflicts. The cultural approach is seen as an effective approach to stopping conflict. The ma'renden tedong is a fine given to the guilty party as
a front ofconfession and as a Symbol of the presence of peace.
In this thesis the outher focuses on the ma'renden tedong ritual as a cultural
approach to bringing peace. Through the perspective of Johan Galtung's peace theory to see peace in the ma'renden tedong ritual in Sesenapadang District, Mamasa Regency. Keywords: Peace, Conflict, Culture, Ma'renden Tedong and Johan Galtung.