Abstract :
Meriani Bintoen (2020196384). Pada tahun 2023 menyusun skripsi dengan
judul "Siangkaran Sebagai Kearifan Lokal Orang Toraja dalam Upaya
Mereinterpretasi Makna Rambu Solo' Dalam latar belakang dijelaskan bahwa
rambu solo' kini mengalami pergeseran makna dan dijadikan sebagai ajang untuk mempertontonkan kemampuan dan mengejar pengakuan. Ini kemudian
menimbulkan permasalahan, dimana terkadang dalam suatu keluarga yang
memiliki perbedaan ekonomi memaksakan untuk melaksanakan rambu solo'
sehingga menjadi beban bagi yang tidak mampu. Tujuan dari penulisan ini
adalah untuk menjelaskan dan mengaplikasikan siangkaran dalam upaya
mereinterpretasi makna rambu solo' yang kini telah berubah. Dalam tulisan ini, metode yang digunakan adalah kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian,
siangkaran memang terkadang tidak dilakukan utamanya dalam menanggung hewan kurban yang akan digunakan dalam melaksanakan rambu solo'. Hal tersebut dipicu oleh adanya kepentingan pribadi, baik itu prestise, politik maupun harta warisan, siangkaran yang dianggap sebagai bantuan dari kerabat, perlu juga diterapkan dalam hubungan saudara agar tidak ada yang unggul ataupun terbebani. Jika siangkaran dilakukan maka makna rambu solo' yang sebelumnya dipandang negatif akan berubah menjadi tempat untuk tolong-menolong dan saling menghargai.
Kata kunci: Rambu solo', Kearifan Lokal, Siangkaran, Teologi Kontekstual,
Model Terjemahan, Keugaharian.
ABSTRACT
Meriani Bintoen (2020196384). In 2023 he compiled a thesis entitled
"Siangkaran Sebagai Kearifan Lokal Orang Toraja dalam Upaya
Mereinterpretasi Makna Rambu Solo'". In the background it is explained that the sign solo' is now experiencing a shift in meaning and is used as a place to demonstrate abilities and seek recognition. This then creates a problem, where sometimes in afamily that has economic dijferences they areforced to carry out solo signs 'so that it becomes a burdenfor those who can't ajford it. The purpose of this paper is to explain and apply the present in an ejfort to reinterpret the meaning ofthe solo sign which has now changed. In
this paper, the method used is qualitative. Based on the results of the research, it is sometimes not carried out, especially when carrying sacrificial animals that will be used in carrying out solo signs. This was triggered by personal interests, be it prestige, politics or inheritance. The ojferings, which are considered as helpfrom relatives, also need to be applied in sibling relationships so that no one is superior or burdened. If the sun-carriage
is carried out, the meaning ofthe solo sign, which was previously viewed negatively, will change into a place for mutual assistance and niutual respect.
Keywords: Rambu solo', Local Wisdom, Siangkaran, Contextual Theology, Translation Model, Sophistication.