Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Anton Rimanang, 122 0647 411
Subject
Disain Komunikasi Visual
Datestamp
2016-12-14 01:11:46
Abstract :
Pranatamangsa sebagai ketentuan musim, selama ratusan tahun telah digunakan oleh para petani Jawa untuk mengelola sawahnya. Budaya ini terus menerus dilestarikan oleh nenek moyang secara turun temurun melalui cerita (oral). Kemudian pada masa Pakubuwono VII dari kerajaan Surakarta, pada tanggal 22 Juni 1855 mulai ditetapkan dan digunakan sebagai sistem penanggalan yang mengatur tata kerja kaum tani. Bersama sastrawan Ranggawarsita, kemudian Pakubuwono VII membuat buku Pranatamangsa. Watak setiap mangsa dijelaskan menggunakan kalimat puitis, dalam bahasa Jawa. Setiap mangsa dijelaskan menggunakan indikator-indikator yang gejalanya dapat diamati langsung pada alam sekitar. Gambar-gambar yang digunakanpun sangat simbolis, sehingga bagi orang awam sulit untuk bisa langsung dicerna.
Meski sudah mulai banyak ditinggalkan karena pemanasan global, bukan berarti Pranatamangsa harus dilupakan. Buku visual Pranatamangsa ini dirancang untuk menjembatani budaya adiluhung tersebut kepada generasi muda saat ini, agar generasi muda mengenal kalender tradisional Jawa Pranatamangsa sebagai bagian dari sejarah pertanian di pulau Jawa yang patut dibanggakan.
Dengan menggunakan ilustrasi yang jelas pada indikator setiap mangsa, maka diharapkan para pembaca akan dapat lebih mudah memahaminya. Buku visual ini juga disertai dengan teks terjemahan ke dalam bahasa Inggris, agar astrologi Jawa kuno ini bisa dikenal oleh masyarakat mancanegara.
Dari hasil survey yang dilakukan, masyarakat khususnya generasi muda masih banyak yang belum mengenal Pranatamangsa. Bagi mereka, budaya adiluhung asli Indonesia harus dilestarikan, diperkenalkan pada generasi sekarang, maupun yang akan datang.