Abstract :
Bandara Komodo (IATA: LBJ, ICAO: WATO) adalah sebuah bandara yang dijadikan fokus oleh Pemerintah Indonesia Bersama Kementrian Pariwisata dalam pengembangan kurang lebih 5 destinasi pariwisata super prioritas bersama dengan Borobudur, Mandalika, Danau Toba, dan Likupang. Bandara Komodo beroperasi sejak tahun 2015 dengan nama awal Bandar Udara Mutiara II kemudian diganti Namanya menjadi Bandara Komodo sebagai wujud perlambangan ikon wisata yang ada pada daerah tersebut, yaitu pulau Komodo. Bandara ini dikelola oleh perusahaan internasional 1.) PT Cardig Aero Services 2.) Changi Airports MENA Pte Ltd. 3.) Changi Airport International Pte Ltd.. Tujuan perancangan interior pada bandara Komodo memiliki fokus pada memperkenalkan sedikit dari banyak ragam budaya yang ada di Nusa Tenggara Timur terutama daerah yang terkait dengan target pariwisata internasional. Mengangkat sebuah Mutiara Sumba yaitu Laku Ndhuta hada Pera yang memiliki makna bangun Bersama dan berjalan beriringan. Dimaksudkan kepada kesejahteraan daerah dan penduduk setempat yang dapat tumbuh Bersama dan bersinabung dalam pesatnya pertumbuhan nilai ekonomi daerah. Bandara juga dirancang agar dapat menyajikan pelayanan terbaik bagi semua pengguna ruang dengan berbagai kondisi dan usia yang akan ditopang menggunakan dasar dari Universal Design. Karya perancangan ini menggunakan metode proses desain yang tersusun dengan tahap analisa dan sintesa yang mengumpulkan keseluruhan data lalu diolah dan dikembangkan menjadi alternatif desain yang dapat melahirkan hasil solusi paling optimal pada tiap ruangannya. Interior Bandara Komodo menyajikan rancangan ruang yang diadaptasi dari kebudayaan lokal dengan pendekatan pada Cultural Design, sehingga dapat menjadi sebuah Langkah dalam mempromosikan kebudayaan dan karakteristik yang menjadi akar kesenian serta keberagaman di daerah tersebut.
Kata Kunci : bandara komodo, interior, cultural, universal design.