Abstract :
Banyak kasus di lingkungan sekitar dapat dijadikan sumber ide penciptaan,
salah satunya pada kasus bullying, kasus ini marak diperbincangkan di media sosial.
Kasus miris yang terjadi telah banyak memakan korban. Alasan penulis
mengangkat tema bullying dalam karya keramik karena penulis pernah menjadi
korban bullying ketika berada di Sekolah Dasar. Tujuan dari penciptaan karya ini
menjelaskan bagaimana konsep karya dengan tema fenomena bullying dalam karya
keramik.
Metode pendekatan yang digunakan penulis dalam proses penciptaan karya
ini menggunakan metode estetika The Liang Gie, metode tersebut menjelaskan
bagaimana keindahan yang terdapat dalam sebuah karya tersebut. Agar karya lebih
hidup penulis menggunakan metode semiotika dari Charles Sanders Peirce supaya
dapat mengetahui tanda-tanda apa saja yang terdapat dalam karya tersebut dan agar
dapat mempelajari perilaku dan mental secara ilmiah penulis menggunakan metode
psikologi dari Wilhem Wundt. Dalam pembuatan karya teknik yang digunakan ada
tiga yaitu pijit (pinch), pilin (coil) dan lempeng (slab).
Empat karya keramik abstrak figuratif yang diciptakan penulis dengan tema
fenomena bullying mampu menghasilkan gambaran perasaan yang dialami penulis
kedalam karya. Karya pertama yang diciptakan penulis berjudul Social Bullying
yang terdiri dari empat figur keramik, karya kedua berjudul Strict Parents terdiri
dari tiga figur keramik, karya ketiga berjudul Insulting terdiri dari dua figur
keramik, dan karya yang keempar berjudul Relational Aggression terdiri dari satu
figur keramik yang berada ditengah-tengah keramik yang berbentuk menyerupai
bentuk tangan yang memperlihatkan rasa ketidaksukaan terhadap korban.