Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Avis Wahyudi, NIM. 08/276419/SMU/00558
Subject
Penciptaan dan pengkajian seni
Datestamp
2016-10-03 03:14:40
Abstract :
Lakon Dewa Ruci yang menceritakan perjalanan Bima
mendapatkan ngélrnu kasampurnan merupakan lakon yang unik
karena di dalamnya terdapat fenomena yang kontradiksi. Hal
tersebut tampak pada kapasitas Bima dan Drona kaitannya
dengan ngélmu kasampuman. Ngélmu kasampuman merupakan
ajaran tasawuf tingkat tinggi yang hanya dapat dicapai oleh orang
yang memiliki kualitas spiritual tinggi, yang gemar tarak brata dan
tapa brata. Kualitas spiritual Bima masih di bawah Yudistira.
Dalam hal tarak brata dan tapa brata Bima kalah dengan Arjuna.
Logikanya, yang lebih pantas menerima ngélmu. kasampur-nan
adalah Yudistira atau Arjuna.
Demikian halnya dengan Drona. Drona adalah guru perang
yang memiliki sifat jahat. Kualitas spiritualnya berada di bawah
Wiyasa maupun Bisma, kakek Bima. Dengan demikian secara
hubungan pun kedua brahrnana tersebut lebih dekat dibanding
Drona. Dengan demikian logikanya yang lebih pantas menjadi
guru Bima adalah Wiyasa atau Bisma. Yang menjadi pertanyaan
adalah mengapa Bima sebagai penerima ngélmu kasampurnan?
Mengapa Bima memilih Drona sebagai gurunya? Berdasarkan
keberadaan Bima dan Drona tersebut, pertanyaannya adalah apa
makna lakon Dewa Ruci? Oleh karena Lakon Dewa Ruci
merupakan teks pertunjukan, berdasarkan dua pertanyaan di
atas, maka pertanyaan selanjutnya adalah apa makna
pertunjukan Lakon Dewa Ruci?
Data pokok yang berupa kaset rekaman Lakon Dewa Ruci
Sajian Ki Narto Sabdo dipandang dari dua sisi, yaitu teks lakon
dan pertunjukannya. Setiap tokoh dipahami sebagai unsure
pembangun makna Lakon Dewa Ruci. Pertanyaannya adalah ?apa
makna teks Lakon Dewa Ruci? Sebagai seni pertunjukan,
pertunjukan wayang memberikan makna di level yang lain.
Pertanyaannya adalah ?apa makna pertunjukan Lakon Dewa Ruci?
Analisis strukturalisme Lévi-Strauss, dramaturgi wayang,
mitologi wayang, dan hermeneutika digunakan untuk menjawab
tiga pertanyaan di atas. Kesimpulan yang diperoleh adalah: (1)
Bima-Drona adalah identi?kasi Vdyu-Vdta sebagai prdna; (2) Teks
Lakon Dewa Ruci sebagai prdnayana; (3) Pertunjukan Lakon Dewa
Ruci sebagai ritual pemujaan Syiwa.