Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
I Wayan Dana, 3168/IV-4/187/90
Subject
Pengkajian Tari
Datestamp
2016-10-05 01:55:11
Abstract :
Kajian sosio-historis ini dimaksudkan untuk
nenelusuri dan mengungkapkan kenbali perkembangan
Dranatari Topeng Sidhakarya di Bali. Data anal
nenginformasikan bahwa topeng Sidhakarya hadir sebagai
tari gali yaitu tari yang penyajiannya tak terpisahkan
dengan pelaksanaan upacara keaganaan. Kenyataannya yang
terjadi hingga sekarang topeng Sidhakarya selain sebagai
tari wali (Sakral), ia juga dipergelarkan sebagai tari
bebali (seremonial), dan untuk balih-balihan (tontonan
sekuler).
Pengklasifikasian sederhana ini sudah barang tentu
tidak lepas dari jaringan-jaringan sistem yang terkait.
Untuk menjawab masalah itu dipinjan teori-teori dan
konsep ilmu-ilmu sosial yang cocok dengan substansi
penelitian historis. Topeng Sidhakarya sebagai tari religi,
penyajiannya ditentukan oleh waktu dan tempat pelaksanaan
upacara, pemain atau dalana topeng, cerita, sesaji,' alat
yang dibawa pada saat menari. Tokoh topeng yang harus
hadir sebagai inti pertunjukan adalah topeng Sidhakarya.
Kesamua unsur itu hadir menyatu dalan satu kesatuan
dengan upacara yang dilangsungkan. Kehadiran tokoh
Sidhakarya aebagai inti pertnnjukan dipertegas pula oleh
Gerak-geriknya pada saat menaburkan beras kuning, tepung
tawar, uang kepeng, dan dilengkapi dengan dupa dan
canangsari. Sebagai tari bebali ia dipergelarkan hanya
sebagai pengiring atau pelengkap dalam rangkaian upacara
yang diselenggarakan, dan kemudian berkembang menjadi
tari bali-balihan. Hal ini terbukti dalan satu kurun
waktu (1915 ? sekarang), Dramatari Topeng Sidhakarya
mempunyai fungsi ganda. Di satu sisi tetap meneruskan
tradisinya yaitu dipergelarkan sebagai tari wali, Yang
penyajiannya tidak terlepas dari bagian upacara. Di sisi
lain topeng ini berubah menjadia tari bali-balihan
(tontonan) yang khusus dipertunjukkan secara utuh nilai
artistik dan estetik untuk ditonton. Kehadirannya sebagai
tontonan tidak terikat oleh adanya pelaksanaan upacara.
Di samping itu, penyajiannya lebih nanpak nenonjolkan
segi hiburannya daripada makna yang dikandungnya.
Kelonggaran?kelonggaran nilai dalam pelaksanaan
upacara dan adat memberikan kebebasan kepada para seniman
topeng untuk lebih leluasa berkreasi. Kebebasan itu
mengembangkan penyajian topeng Sidhakarya nenjadi bentuk
pertunjukan yang variatif, yaitu nenjadi topeng Panca
(1915), dan kemudian di tahun 1940 nelahirkan topeng
Prembon. Perkembangan dramatari Topeng Sidhakarya baik
sebagai tari wali maupun bali-balihan hingga dewasa ini
berjalan berdanpingan dan saling menopang satu dengan
yang lainnya.