DETAIL DOCUMENT
Aksesibilitas Siswa Tunadaksa Di Komplek SLB Negeri 3 Yogyakarta
Total View This Week0
Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
P. Intania, Angela
Subject
Disain Interior 
Datestamp
2022-05-29 03:47:00 
Abstract :
Memberikan fasilitas sekolah yang aksesibel merupakan visi dari SLB Negeri 3 Yogyakarta, salah satu SLB dari 57 SLB yang ada di Yogyakarta. SLB ini terdiri dari 4 jurusan, yaitu: jurusan A (tunanetra), jurusan B (tunarungu/tuli), jurusan C (tunagrahita), dan jurusan D (tunadaksa). Tunadaksa adalah cacat tubuh atau dengan kata lain memiliki keterbatasan fisik. Jurusan D adalah wadah bagi siswa tunadaksa sehingga dalam pergerakkannyaberkaitan erat dengan aksesibilitas (kemudahan dalam memasuki atau mempergunakan sesuatu). Menurut Weisman (1981) kemudahan bergerak yang diartikan sebagai aksesibilitas terkait secara sirkulasi dan visual. Aksesibilitas sudah terbangun di SLB negeri 3 Yogyakarta. Aksesibilitas tersebut dapat terlihat pada, interior ruang kelas, jalan penghubung, ramp, fasilitas terapi, sanggar, dan olah raga, tetapi keberadaannya masih dirasa kurang, karena banyak aksesibilitas yang tidak sesuai dengan kemampuan siswa sehingga siswa tidak bisa mandiri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aksesibilitas terkait secara sirkulasi dan visual yang ditimbulkan oleh perilaku siswa tunadaksa di SLB Negeri 3 Yogyakarta. Dengan mengacu pada jenis penelitian kualitatif dan menggunakan metode pendekatan deskriptif, diharapkan penelitian ini mampu menyajikan pengetahuan yang seluas-luasnya terhadap objek penelitian pada suatu saat tertentu. Banyak ketidaksesuaian aksesibilitas di SLB negeri 3 Yogyakarta, seperti: jarak menuju suatu ruang yang cukup jauh, sirkulasi didalam kelas sempit, perabot yang kurang aksesibel, jalan yang tidak rata, maupun kemiringan ramp yang tajam. Ketidaksesuaian tersebut disiasati oleh siswa dengan mencari cara yang sesuai dengan kemampuan mereka. Cara tersebut dilihat dari perilaku mereka sehari-hari sebagai pengguna fasilitas, cara yang mereka timbulkan tersebut secara tidak langsung membentuk aksesibilitas baru, seperti: jauhnya jarak menuju kamar mandi jurusan D'membuat mereka mencari kamar mandi yang berjarak lebih dekat yaitu kamar mandi dari jurusan A, Ramp yang terlalu miring membuat mereka harus didorong oleh orang lain, sempitnya sirkulasi membuat para siswa saling bertoleransi bila memasuki kelas dengan cara antri bahkan mendorong perabot yang ada untuk memperluas sirkulasinya. Banyak ketidak sesuaian dari aksesibilitas yang ada di komplek SLB Negeri 3 Yogyakarta, baik secara sirkulasi maupun visual. Dengan aksesibilitas yang ada siswa mampu menyesuaikan dan menciptakan aksesibilitas yang baru sehingga mereka dapat beraktivitas disekolah. 
Institution Info

Institut Seni Indonesia Yogyakarta