Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Victorius Ganap, 02/1097/ps
Subject
Komposisi Musik
Datestamp
2016-10-11 02:53:59
Abstract :
Pada tahun 1513 kapal-kapal Portugis datang dan membuang
sauh di lepas pantai Sunda Kalapa dalam pelayaran mereka dari
Malaka menuju Maluku untuk mendapatkan rempah-rempah.
Pcrsinggahan itu menandai dimulainya muhibah antara bangsa
Indonesia dengan bangsa Eropa. Sejak tahun 1511 Malaka memang
telah diduduki Portugis, namun pada tahun 1641 armada Belanda
berhasil merebut Malaka dari tangan mereka. Meski kehadiran
Portugis di Asia Tenggara dapat dikatakan relatif singkat, sejarah
Batavia mencatat keberadaan kelompok mardijkers, laskar Portugis
asal Bengali dan Coromandel di Malaka yang ditawan oleh VOC
sebelum kemudian dimerdekakan sebagai mardijkers. Selanjutnya
pada abad kc-19 kelompok mardijkers itu membubarktn diri dan
membaur dengan masyarakat Batavia pada umumnya.
Disertasi ini bertujuan meneliti tentang sebuah komunitas
Kristiani yang berada di Kampung Tugu, Jakarta Utaxa, yang telah
mampu bertahan hidup bersama peninggalan musik Portugis yang
dikenal sebagai Krontjong Toegoe. Pendapat yang berkembang selama
ini mengatakan komunitas itu berasal dari kelompok mardijkers di
Batavia. Namun penelitian disertasi ini menemukan bukti lain,
bahwa komunitas Tugu adalah keturunan dari sekelompok laskar
laut Pqrtugis asal Goa yang melarikan diri dari Maluku bersama
keluarga mereka asal Pulau Banda, dan terdampar di pantai
Cilincing. Mereka ditangkap oleh VOC dan pada tahun 1661 dibuang
ke Kampung Tugu.
Mereka merupakan leluhur komunitas 'l?ugu yang mewarisi
budaya Portugis dari abad kc-16. Akibat terisolasi dari kehidupan
kota, rnercka mcngusir kcsepian dengan bermain musik dan
menyanyikan lagu-lagu Portugis. Musik mereka kemudian menjadi
cikal bakal genre musikal Krongjong Toegoe, dengan karakteristik
sebagai musik yang mengiringi kelompok penyanyi dengan gaya yang
spontan dan bersahaja tanpa omamentasi dan vibrato. Genre itu
juga memiliki pembawaan ekspresi yang spontan dalam bemyanyi.
Lagu Moresco dan Cafrinho memperlihatkan pengaruh Portugis asal
Moor dan Afrika. Adapun iringan musiknya terdiri dari tiga gitar kecil
buatan sendiri, yaitu prounga berukuran agak besar, macina
bemkuran sedang, dan jitera berukuran paling kecil.
Musik keroncong diyakini telah dilahirkan di Kampung Tugu
sejak lebih dari tiga abad yang lalu. Namun kegiatannya tercatat
untuk pertama kali ketika mereka mendirikan orkes keroncong Moresoo Toegoe pada tahun 1925. Mereka percaya bahwa dcngan
melestarikan musik keroncong yang diwariskan kepada mcreka, itu
merupakan penghormatan tcrhadap para leluhur. UNESCO pada
tahun 1971 kemudian memproduksi piringan hitam permajnan OK
Moresco Toegoe yang dipimpin oleh Jacobus Quiko dengan repertoar
antara lain lagu-lagu dari masa Hindia Belanda, seperti Oud Batauia
dan Schoon ver van jou. Mcreka juga scjak tahun 1989 telah acap
kali diundang mcngadakan pcrtunjukan musik keroncong pada
Pasar Malam Tong Tong di Den Haag, Negcri Belanda.
Meski musik Krontjong Toegoe diyakini berasal dari Portugal,
penelitian ini mengatakan bahwa Krontjong Toegoe adalah sebuah
musik hibrida, campuran dari berbagai budaya Barat dan non-Barat
yang membaur mcmbentuk sebuah sintesis musikal yang unik.
Komunitas Tugu boleh saja menganggap bahwa mcreka adalah
keturunan Portugis, namun pada kenyataannya mereka telah
bercampur dengan kelompok emik lainnya, meniru gaya hidup orang
Bclanda, dan scbagian dari mcreka adalah kemrunan Indo-Belanda.
Betapapun juga, Krontjong Toegoe adalah cikal bakal dari
musik keroncong sebagai salah satu aliran besar musik Indonesia,
yang telah diterima dan menjadi milik bangsa Indonesia. Komunitas
Tugu mcmang hidup tidak tcrpisahkan dari musik, karena menurut
tradisi mcreka setiap anggota komunitas 'l\1gu disyaratkan mengenal
musik keroncong. [tu sebabnya dengan semangat yang mereka miliki
secara turun-temurun, kehidupan musik Krontjong Toegoe diyakini
akan langgeng selamanya.