Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Hendro Martono, NIM 018C/S3-ST/08
Subject
Penciptaan dan pengkajian seni
Datestamp
2016-10-11 03:04:04
Abstract :
Fenomena perubahan sosial terjadi di dusun Suru Kemadang Tanjungsari
Gunungkidu1.Sejak beberapa tahun yang lalu banyak warga yang semula petani
menjadi pedagang di sektor kelautan, dipelopori kaum perempuan sebagai
pekerjaan sampingan kemudian berubah menjadi p0k0k.Muncul pertanyaan
kreatifnya, bagaimanakah mentransfonnasikan gejolak batin dampak perubahan
sosial menjadi karya seni.
Penelitian etnogra? dimulai sejak tahun 2000, penata taxi belajar dari
masyarakat tentang kehidupan petani, pedagang se?a nelayan.Garapan tarinya
menggunakan pendekatan Koreogra?-Lingkungan yang memposisikan
masyarakat desa menjadi subyek pelaku perubahan sosial yang
sebenarnya.Diproses secara intersubyektivitas yang menghargai gagasan individu
yang terlibat. Judul karya tari Laku Gunung Segara, laku berarti tindakan ?sik
maupun spiritual, gunung simbolisasi desa, segara artinya samudra, maka inakna
laku Gunung Segaraadalah orang gunung pergi ke laut mencari rejeki dan dibawa
kembali ke gunung untuk memperbaiki hidupnya. Koreogra? terdiri dari tiga
repe?oar, yakni: Bumi Langit, terjadinya kon?ik batin antara karakter petani
dengan nelayan/pedagang di kelautan. Gayuh Bumi menyajikan sepeda motor
sebagai penghubung gunung dengan lautan dan penggambaran eforia pemuda
desa dalam menyikapi perubahan sosial, se?a repe?oar Segara Gunung di pantai
Baron yang menyajikan petani berubah peran menjadi pedagang dan nelayan,
menggambarkan watak yang terbelah.
Menggunakan analisis koreogra? dan semiotika Teater.Sintesisnya,
Koreogra?-Lingkungan sebagai genre baru dalam koreogra?, yang mampu
mengekspresikan persoalan sosial secara artistik di ruang masyarakat yang
realistik.Berbeda dengan teater Miskin, teater Antropiogi maupun teater
Lingkungan.Sintensis lainnya adalah Laku Gunung Segara, manifestasi Labuhan
dalam ruang kehidupan keseharian masyarakat Suru. Sintesis selanjutnya,
menurut pandangan orang desa Ratu Kidul merupakan jelmaan Dewi Sri sehingga
orang desa tidak takut lagi bekerja di kelautan. Kesimpulannya k0re0gra?-
Lingkungan berhasil meneijemahkan dan mengembangkan konseptual secara
tuntas.Temuan kultural, bahwa masyarakat desa yang mempunyai kesenian yang
maju, memiliki persepsi pentingnya latihan dan mudah diajak keijasama kreatif,
berbeda dengan warga desa yang memiliki kesenian yang tidak berkembang, tidak
memiliki persepsi latihan panjang yang penting pentas. Temuan teknis model
busana Ratu Kidul dinilai mencitrakan ciptaan keraton JaWa. Teknis pengelolaan
masyarakat satu dusun lebih mudah bila kerja sama dengan pemerintahan desa
dan dusun serta tokoh masyarakat. Katya tari ini dipentaskan Kamis 9 Juni 2011 di dusun Suru hingga ke
pantai Baron sesuai dengan teljadinya perubahan sosial. Waktu pementasannya
sore hari yang mengambil keeksotisan pemandangan pantai menjelang mataha?
terbenam. Didukung masyarakat Suru sebagai penari, pemusik dan pembuat set,
dibantu beberapa penari dan pemusik dari ISIYOgyakarta.