DETAIL DOCUMENT
Mleset Dan Nggandhul Dalam Karawitan Pedalangan Gaya Yogyakarta: Tinjauan Budaya, Karawitanologi, Dan Fisika Bunyi
Total View This Week0
Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
St. Hanggar Budi Prasetya, O6/240757/SMU/00250
Subject
Karawitan 
Datestamp
2016-10-11 03:40:12 
Abstract :
Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami fenomena mlését dan nggandhul pada karawitan pedalangan gaya Yogyakarta. Masalah utama yang diajukan adalah mengapa instrumen kenong, kempul, dan gong ditabuh mlését dan nggandhul. Pada penelitian ini karawitan dipandang sebagai fenomena musikal, bunyi, dan budaya. Untuk menjawab pertanyaan yang diajukan digunakan pendekatan multi disiplin yaitu pendekatan ?sika bunyi, karawitanologi, dan budaya. Ada dua jenis data pada penelitian ini, yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa rekaman bunyi tiap instrumen gamelan dan bunyi gending-gending yang biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan Wayang. Data kualitatif berupa pengalaman pengrawit dan dalang diperoleh melalui pengamatan dan Wawancara mendalam terhadap para informan. Data kuantitatif diolah menggunakan program komputer wavelab 7. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa mlését dikategorikan menjadi mlését nuntuni dan mlését ngémpyungi. Mlését nuntuni ditentukan oleh lagu gending, sedangkan mlését ngémpyungi ditentukan oleh patet dan frekuensi instrumen gamelan. Instrumen yang biasa digunakan untuk plésétan yaitu kenong dan kempul memiliki frekuensi bunyi yang khas. Setiap instrumen ini memiliki frekuensi fundamental yang menghasilkan nada utama dan frekuensi overtone yang menghasilkan nada kémpyung atau gémbyang. Frekuensi overtone ini menimbulkan interferensi bunyi yang secara budaya diterima sebagai suara yang enak oleh para pendengar dan pengrawit. Tempo nggandhul ditentukan oleh irama, laya, dan jenis instrumen. Tabuhan nggandhul berlaku pada irama II, III, dan IV dan laya antal. Tempo nggandhul dipengaruhi oleh laya gending dan jenis instrumen. Nggandhul-nya instrumen kenong, kempul, dan gong terjadi ketika instrumen yang digunakan sebagai acuan nggandhul masih berbunyi saat mulai meluruh. Dari aspek ?sika bunyi, tabuhan nggandhul berperan memperluas ruang bunyi yang secara budaya diterima sebagai suara yang enak oleh para pendengar dan pengrawit. 
Institution Info

Institut Seni Indonesia Yogyakarta