DETAIL DOCUMENT
Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara Abad XIX Samapai Abad XX : Sebuah Tinjauan Melalui Pendekatan Multidimensional
Total View This Week0
Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
SP. Gustami, -
Subject
Kriya Kayu 
Datestamp
2016-10-11 07:18:43 
Abstract :
Terbentuknya industri mebel ukir Jepara melalui proses dan sejarah yang panjang. Poses yang panjang itu dimulai dari pengenalan tentang keterampilan pembuatan benda-benda kebutuhan hidup pada tingkat yang paling sederhana, sehingga mengalami perkembangan clan berhasil mencapai tingkat kemampugn yang tinggi dengan hasil-hasil yang baik. Pada tingkat awal, pengenalan keterampilan dipcroleh melalui pembelajaran dan alih keterampilan yang dibawa serta oleh para pedagang, imigran, dan para misionaria. Para pedagang, imigran, dan misionaris terscbut di antaranya datang negeri Cina dan India. Zaman pemerintahan Ratu Shima merupakan tahap awal pengenalan kegiatan pertukangan dan perundagian, terutama dalam hubungannya dengan pcmbangunan rumah, pembangunan galangan kapal, pembuatan perabot rumah tangga, dan peralatan dapur. Bila produk yang dihasilkan pada waktu itu diperhatikan, baik fungsi produk maupun kualitas estetikanya, masih berada pada tataran sederhana. Oleh karena adanya berbagai pengaruh luar, maka secara berangsur-angsur produk yang dihasilkan oleh masyarakat perajin mengalami perkcmbangan dengan kualitas baik. Pengenalan perabot rumah tangga dapat diietahui melalui hadimya berbagai macam perabot keperluan hidup, yang dapat dibuktikan melalui relief-relief pada dinding-dinding candi. Apabila dinding-dinding yang terbuat dari bahan batu andesit dan keras dapat diwujudkan karya seni yang sangat tinggi, maka dapat diperhitungkan pembuatan perabot dari kayu sudah dikenal masyarakat. Lukisan relief berbentuk perabot, seperti tandu atau krobongan, yang dipahatkan pada dinding candi Borobudur adalah tengara jelas perilaku masyarakat.Dalam hubungannya dengan perkembangan perabot rumah tangga pada abad ke-7 dan seterusnya, peranan Ratu Shima tidak dapat diabaikan, terutama dalam hubungannya dengan pembuatan kapal dan pembangunan rumah huniari. Secara bertahap tetapi pasti, keterampilan para perajin terus mengalami peningkatan yang diikuti dengan dcfersivikasi produk yang dihasilkan. Abad kc-16 sampai dengan abad kc-17 adalah abad kegemilangan bidang pertukangan dan perundagian." Ketika itu hadir seorang tokoh wanita yang bemama Ram Kalinyamat. Dia adalah seorang pemerhati, inovator, pengembangan seni yang kreatif di bidang pertukangan dan perundagian. Penciptaan mebel ukir dan motif hias yang disesuaikan dengan pandangan hidup masyarakat pada zamannya mulai dikembangkan, antara lain dengan hadimya seni ornamen yang berkisar pada bentuk-bentuk stilisasi tumbuh- tumbuhan, bunga-bunga, dan anasir alam lainnya. Pada waktu itu transisi dari zaman Hindu ke zaman Islam, penciptaan karya seni yang mengacu perwujudan bentuk binatang sudah digubah sedemikian rupa sehingga tersamar dalam bentuk stilisasi. Pembangunan rumah juga sudah sangat maju, tidak hanya dalam segi gaya bangunannya saja, tetapi juga dalam segi kualitas estetiknya. Hiasan ukiran yang diterapkan pada banglman rumah adat tradisional memperlihatkan puncak pencapaian yang mengagumkan, sehingga lahir suatu kornentar terhadap seni ukir Jepara pada waktu itu dcngan pcmyataan ?lembut bagai rambut dan halus bagai sutera?. Pernyataan tersebut menunjukkan suatu pengakuan terhadap pencapaian kualitas estetik yang sempurna. Di samping itu, pembuatan perabot rumah tangga seperti meja dan kursi sudah berkembang dengan baik. Mebel ukir dibuat bemkuran sangat besar dan panjang, tampak kokoh dan kuat. Pada bagian sandaran memperlihatkan adanya pengaruh gaya seni daerah Minangkabau, serta pemanfaatan dan pembauran berbagai gaya seni di antara seni-seni tradisional di Indonesia. Pembauran gaya seni itu sudah teijadi sejak beralihnya pemerintahan Majapahit ke Demak, karena banyak tenaga ahli yang turut diboyong kc Demak, sehingga pada masa awal penumbuhan Islam di Indonesia gaya seni Hindu mewarnai penciptaan karya seni dan kerajinan di Jepara pada khususnya dan di pulau Jawa pada umumnya. Kehadiran orang-orang Eropa Barat ke Indonesia (Jawa) pada abad ke- l6 yang kemudian menjadi penguasa kolonial di negeri ini, telah membawa serta berbagai pengaruh, khususnya di bidang pembuatan perabot rumah tangga. Pembauran para tenaga teknik dari Cina, hidia, Arab, Eropa Barat, Indonesia juga memacu terjadinya pembauran gaya seni. Pembauran gaya seni itu tampak pada berbagai perwujudan, antara lain pada pembuatan galangan kapal, pembuatan berbagai perabot, dan hasil-basil pembangunan lainnya. Pada waktu itu produk industri kapalsudah menjadi komoditas ekspor. Keberhasilan seperti itu tidak terlepas dari keterlibatan Ratu Kalinyamat, seorang ratu di pesisir utara Jawa yang pusat pemerintahannya berada di Jepara Pada abad ke-18, ketika pemerintahan pedalaman menerapkan sistem feodal agraris dan meninggalkan sama sekali perdagangan laut, maka penghasilan masyarakat cendenmg bertmnpu pada basil pertanian dan lebih tertuju pada pemenuhan kebutuhan sendiri. Akibatnya perekonomian tidak berkembang, dan semakin lama keadaan e 
Institution Info

Institut Seni Indonesia Yogyakarta