Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Dewanto Sukistono, 07/261519/SMU/321
Subject
Pedalangan
Datestamp
2016-10-12 03:03:38
Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk membahas konsep dasar
bentuk, gerak, dan karakterisasi serta perwujudannya dalam
pertunjukan Wayang golek Menak Yogyakarta. Di Yogyakarta dan
sekitarnya, wayang golek Menak dipopulerkan oleh Ki
Widiprayitna, sekitar tahun 1950 sampai 1960-an, satu?satunya
dalang wayang golek yang aktif mendalang pada waktu itu. Salah
satu faktor yang digemari masyarakat adalah kernampuannya
dalam menggerakkan wayang kelihatan hidup, sehingga dijuluki
dhalang nuksméng wayang. Konsep dasar tersebut selalu
dilandasi dengan prinsip bahwa dalang adalah amanah, dan
pekerjaan mendalang merupakan kewajiban menjalankan
amanah, bukan untuk mencari uang atau penghasilan.
Penelitian ini bersifat multi-disipliner yang terdiri dari
dramaturgi pedalangan, metode sejarah, konsep ikonogra?, dan
phsiognomi, berusaha untuk memaparkan teori yang merupakan
konstruksi dari dunia wayang golek Menak Yogyakarta itu sendiri,
yaitu dalang dan wujud karya seninya.
Studi, penelitian, data?data tertuiis, data rekaman bahkan
pertunjukan langsung tentang wayang golek Menak Yogyakarta
sampai saat ini sangat jarang ditemukan. Oleh karena itu untuk
mengumpulkan data pokok diperoleh melalui observasi dalam
bentuk partisipasi terlibat dan wawancara mendalam melalui
sumber primer, yaitu Ki Sukarno, putera dan penerus Ki
Widiprayitna sebagai dalang wayang golek Menak, serta sumber
sekunder yaitu Ki Sudarminta dan Ki Amat Jaelani Suparrnan,
bekas murid Ki Widiprayitna. Teknik observasi selaras dengan
konsep Hans Georg Gadamer yaitu verstehen is anvenden atau
memahami adalah menerapkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum
struktur pertunjukan wayang golek Menak Yogyakarta masih
mengacu pada wayang kulit purwa, tetapi rnempunyai repertoar
iringan tersendiri. Ragam gerak wayang golek Menak Yogyakarta
selain dipengaruhi wayang kulit purwa juga terinspirasi dari
pertunjukan wayang topéng Pedalangan.
Kesimpulan yang diperolch menjelaskan bahwa konsep
dasar bentuk, gerak dan karakterisasi serta perwujudannya dalam
struktur pertunjukan selalu terkait dengan dimensi teknis dan
kualitas ekspresi. Totalitas pengungkapan kemapanan teknis dan
kualitas ekspresi mampu merubah dirnensi verbal pertunjukan
menjadi dimensi imaginatif, sehingga tidak akan nampak Iagi
batas yang tegas antara seniman, karya seni, dan penonton.