Abstract :
Sejak abad ke- 8 Provinsi Jawa Tengah banyak terdapat pemerintahan kerajaan,
yaitu kerjaan budha kalingga, kerjaan Hindu, kerajaan Mataram Budha, kerajaan
Demak, kerajaan Pajang, kerajaan Mataram Islam, dan Kerajaan Mataram, oleh
sebab itu Provinsi Jawa Tengah memiliki segudang keanekaragaman Cagar
Budaya. Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda
Cagar Budaya, bangunan Cagar Budaya, situs Cagar Budaya, dan kawasan Cagar
Budaya di darat dan di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki
nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan
melalui proses penetapan. Sehingga generasi selanjutnya tetap dapat mengetahui,
belajar, dan berwawasan kebudayaan. Banyaknya temuan arca, prasasti, dan bendabenda
purbakala lainya menyebabkan benda tersebut tidak memiliki keamanan dan
perawatan yang baik, sehingga Balai Pelestarian Cagar Budaya dituntut untuk
memenuhi aspek tersbut sehingga dapat mencapai keamanan dan kenyamanan yang
maksimal. Metode perancangan mengacu pada metode milik Rosemary Kilmer dan
Otie Kilmer, 2014. Proses desain dibagi menjadi dua tahap yaitu Analisis dan
Sintetis. Pada tahap Sitetis memilih untuk menggunakan konsep perancangan Smart
building Design untuk mempermudah penggunanya dan memberikan keamanan
untuk benda-benda temuan yang berada di kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya
Provinsi Jawa Tengah, Sedangkan Pemilihan gaya kontemporer dilatar belakangi karena
letak topografi dari bangunan kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa
Tengah, dimana bangunan ini berada dilingkungan Candi. Unsur candi inilah yang
nantinya akan diaplikasikan kedalam interior kantor Balai Pelestarian Cagar
Budaya Provinsi Jawa Tengah, dengan menciptakan ambiance yang
mempresentasikan bangunan pada masa Kerajaan Majapahit yang mengaplikasikan
material bata ekspose dalam perancangannya.