Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Puri Kusumaningtyas, Fransiska Aprilia
Subject
Pedalangan
Datestamp
2022-08-31 08:51:33
Abstract :
Kabupaten Malang memiliki sebuah kesenian yang telah dikenal secara luas,
yaitu Wayang Topeng Malangan. Bentuk penyajiannya lebih bersifat dramatari.
Kesenian ini merupakan identitas masyarakat Pakisaji. Seiring berjalannya waktu
dan kebutuhan permintaan acara, terjadi modifikasi pada berbagai hal, seperti
bentuk topeng, kostum, peran dalang, bahkan durasi penyajian yang tentunya
merubah beberapa nilai yang terkandung dalam kesenian tersebut. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan fungsi tari Wayang Topeng
Malang bagi masyarakat Pakisaji, Kabupaten Malang pada masa sekarang.
Penelitian ini termasuk pada penelitian deskriptif kualitatif. Pendekatan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan antropologi. Fokus antropologi
dalam penelitian ini digunakan untuk mempelajari dan menganalisis evolusi dan
perkembangan dari seni pertunjukan Wayang Topeng Malangan di Kecamatan
Pakisaji, Kabupaten Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
observasi, studi pustaka, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan
dengan cara mengorganisasikan data, menyusun ke dalam pola dan memilih mana
yang penting dan membuat kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian Wayang Topeng Malangan
bagi masyarakat Kedungmonggo berfungsi sebagai sistem yang memenuhi prinsip
1) Adaptasi (Adaptation): Kesenian Wayang Topeng Malangan mampu beradaptasi
dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman; 2) Pencapaian Tujuan (Goal
Attainment): kesenian Wayang Topeng Malangan ini memiliki beberapa tujuan
yang telah terpenuhi yaitu sebagai pembentukan identitas, hiburan, media
komunikasi, dan media pembelajaran tentang hidup; 3) Integrasi (Integration):
hubungan antar ketiga imperatif fungsional yaitu adaptasi, pencapaian tujuan dan
pemeliharaan pola dapat dilihat dari fakta bahwa adaptasi yang dilakukan oleh
kesenian Wayang Topeng Malangan tetap berorientasi pada pencapaian tujuan dan
memiliki pola regenerasi kesenian yang terus berjalan; dan 4) Pemeliharaan Pola
(Latency): Pola pemeliharaan dan pelestarian ditunjukkan pula oleh fakta bahwa
kesenian ini diwariskan secara turun temurun sehingga terjadi regenerasi dalam
kesenian tersebut guna pelestarian budaya.