Abstract :
Kehilangan menjadi bagian dari perjalanan hidup semua orang.
Kehilangan selalu meninggalkan hal yang membekas, baik luka, memori,
kebiasaan, dan kesedihan, utamanya kehilangan orang yang tersayang untuk
selama-lamanya. Skenario film Pergi dengan Jarak dan Melayang Bebas akan
menceritakan gambaran keadaan dan perasaan duka yang membekas pada
protagonis pasca-kematian ayahnya, serta kejadian yang bisa terjadi akibat
keadaan kehilangan yang menyakitkan karena melewati kesedihan di tengah
keluarga disfungsional dan komunikasi interpersonal yang buruk, cerita akan
berlatar di Kota Cilegon.
Skenario ini menerapkan teori narrative schema dan surprise milik
Edward Branigan sebagai struktur dan narasi penceritaannya. Narrative schema
sendiri memiliki tujuh poin pembentuk naratif dimana pada poin ketiga hingga
ketujuh plot yang dibangun sejalan dengan tahapan masa duka Kubler-Ross
(1969), sedangkan surprise dibangun dengan rumus spectator < character, yakni
info yang diketahui karakter jauh lebih banyak dibanding penonton/pembaca.
Perpaduan kedua teori tersebut akan didukung dengan teknik penceritaan terbatas
melalui aksi, dialog, dan interupsi scene flashback.
Narrative schema diterapkan sebagai struktur naratif penceritaan yang
bisa diarahkan untuk membangun narasi surprise, pembangunan surprise sendiri
tidak lepas dari teknik penceritaan terbatas. Selain bisa dipadukan dengan narasi
penceritaan, narrative schema juga bisa dipadukan dengan tahapan psikologis
untuk mendukung plot. Penggunaan narrative schema bisa diterapkan ke dalam
struktur penceritaan dalam skenario film panjang dan bisa dipadukan dengan
tahapan masa duka Kubler-Ross (1969) dan narasi penceritaan, yang dalam
skenario ini dipadukan dengan narasi terbatas guna membangun surprise.
Pembangunan surprise dalam skenario ini mengagetkan pembaca di mana pada
akhir cerita, surprise yang dimaksud adalah pengungkapan sebuah rahasia/fakta
kepada penonton yang selama ini ditutupi sepanjang cerita berjalan.