Abstract :
Baombai merupakan kesenian berbentuk vokal yang terbentuk dari kegiatan sosial masyarakat Nagari Padang Laweh, yaitu batobo. Baombai dahulunya dilakukan selama kegiatan mengolah sawah. Seiring berjalannya waktu, baombai tidak lagi dilakukan dalam kegiatan mengolah sawah, tetapi telah beralih menjadi sebuah seni pertunjukan yang dipertontonkan di depan orang banyak. Dendang baombai dinyanyikan dengan vokal saja tanpa diiringi oleh alat musik apapun, dan dibawakan dengan irama yang terdengar unik. Lirik yang dibawakan sebagian besar merupakan ungkapan perasaan para petani yang bekerja di sawah. Penelitian ini membahas tentang bentuk penyajian dendang baombai dan fungsi baombai dalam konteks Festival Matrilineal. Teori yang digunakan adalah teori Djelantik yaitu teori bentuk penyajian dan teori 10 fungsi musik oleh Alan P. Merriam. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnomusikologis.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa baombai disajikan dengan irama yang bervariasi. Sebagian besar dendang disajikan dengan tempo bebas (irregular/atempo) dengan gaya vokal melismatis. Sebagai sebuah pertunjukan, baombai berfungsi sebagai pengungkapan emosional, hiburan, sarana komunikasi, dan kesinambungan budaya.