DETAIL DOCUMENT
Penekanan Emosi Tokoh Menggunakan Gaya Found Footage Dalam Penyutradaraan Film Fiksi “Bhagawanta”
Total View This Week0
Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Julyanto, Rokhmatullah
Subject
Audio Visual 
Datestamp
2023-09-12 07:14:37 
Abstract :
Film horor merupakan salah satu genre film yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada tahun 2019, tercatat sekitar 49,3 juta penonton yang menonton film horor di bioskop. Dalam film horor, pendekatan teknik dekupase-dekupase shot sering digunakan untuk meningkatkan dramatisasi. Namun, found footage menggunakan pendekatan yang berbeda dengan pengambilan satu gambar long take dan membangun dramatisasi melalui pergerakan kamera dan pengadeganan tokoh. Dalam konteks found footage, stock footage dapat dianggap sebagai lawannya karena found footage mengacu pada rekaman yang ditemukan, sedangkan stock footage mengacu pada rekaman yang sudah disiapkan sebelumnya. Found footage merupakan film yang dibuat dengan menggunakan teknik pengambilan gambar layaknya dokumenter atau rekaman amatir. Penerapan gaya found footage merupakan konsep utama untuk menekankan emosi tokoh. Found footage dipilih karena memiliki gaya penuturan yang sesuai dengan latar belakang dari cerita yang diangkat yaitu tentang tim kanal youtube yang ingin membuat konten horor namun terkena teror yang menyebabkan mereka hilang satu-persatu, serta dapat mendukung penekanan emosi yang dirasakan oleh tokoh dengan konsep kamera handheld dan menggunakan teknis zoom in, zoom out, panning, dan follow, disertai dengan camera shaking. Penyutradaraan film fiksi ?Bhagawanta? menggunakan gaya penuturan found footage dibutuhkan untuk menampilkan penekanan emosi yang dirasakan oleh tokoh. Emosi seperti kebahagiaan, kesedihan, kecemasan, dan ketakutan yang dirasakan oleh tokoh dapat tersalurkan kepada penonton karena diperkuat dengan teknik kamera diegetik yang diterapkan di film ini. Gibran sebagai pengoperasi kamera dari tim tersebut, merekam segala kejadian yang dialami Gading, Clarissa, Kiki, dan Ilham juga menunjukkan emosi yang dirasakan melalui pengambilan gambar yang dihasilkan. 
Institution Info

Institut Seni Indonesia Yogyakarta