DETAIL DOCUMENT
Makna lakon Budhuk Basu dalam rangkaian upacara Baritan di dusun Pecolotan desa Sugihwaras kecamatan Pemalang kabupaten Jawa Tengah
Total View This Week0
Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Sutanto, Sutanto
Subject
Pedalangan 
Datestamp
2023-10-26 08:08:19 
Abstract :
Upacara Baritan adalah suatu kegiatan yang sifatnya ritual yang dilakukan oleh masyarakat nelayan, khususnya Dusun Pecolotan, Desa Sugihwaras, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Baritan adalah bagian dari kapal yang tempatnya di belakang sendiri, hal ini mempunyai fungsi sebagai penggerak maju mundurnya kapal. Di dalam pelaksanaan upacara ritual tersebut, masyarakat setempat meyakini akan adanya kekuatan-kekuatan ghaib yang mempunyai nilai lebih bagi warga setempat. Hal ini terbukti dengan tokoh Budhuk Basu sebagai bubak kawah atau cikal bakal ikan di laut. Mereka juga mempercayai adanya Ki Rengkang dan Ki Rengkeng sebagai sosok Dhanyang penunggu laut, sekaligus sang pemelihara ikan. Untuk menghormati ketiga tokoh tersebut di atas, oleh masyarakat setempat diwujudkan dalam bentuk upacara, yang disebut dengan Baritan. Kegiatan ritual ini mempunyai tujuan, agar terhindar dari segala malapetaka yang diramalkan akan mengancam warga setempat, dan untuk mendapatkan keberkahan serta kehidupan yang lebih memadahi di tahun-tahun yang akan datang. . Beranjak dari ketiga mitos tersebut, maka warga setempat mementaskan cerita tersebut ke dalam pertunjukan wayang kulit purwa dengan lakon Budhuk Basu, sebagai satu-satunya lakon yang telah dibakukan oleh masyarakat setempat. Di dalam cerita pedalangan lakon Budhuk Basu adalah cikal bakal ikan di laut, sekaligus dewa kesuburan ikan. Mengingat pertunjukan wayang kulit purwa untuk kebutuhan ritual, maka bentuk pementasannya dalam lakon buunuk Dasu adalah bentuk pakeliran padat. Hal ini disebabkan karena keterbatasan waktu yang tidak memungkinkan bagi dalang untuk miementaskannya ke dalam bentuk pementasan utuh. Gagrag atau gaya pakeliran yang digunakan adalah gaya Pesisiran, yaitu bentuk pementasan yang sering menggunakan gaya Yogyakarta, gaya Surakarta, dan gaya Banyumas, Makna yang terkandung dalam pelaksanaan pementasan wayang kulit purwa lakon Budhuk Basu adalah makna simbolis karena di dalam cerita tersebut menceritakan perjalanan Budhuk Basu untuk memperistri Dewi Sri, tetapi tidak berhasil. Namun demikian masyarakat setempat berkeinginan untuk menyatukan Budhuk Basu dengan Dewi Sri, walaupun di dalam kehidupann batiniah. Ini terbukti dengan bertemunya ikan dan nasi di dalam perut manusia. Ikan simbol dari Budhuk Basu, sedangkan nasi simbol dari Dewi Sri. Dengan demikian masyarakat setempat merasa telah menikahkan Budhuk Basu dan Dewi Sri secara batiniah. 
Institution Info

Institut Seni Indonesia Yogyakarta