DETAIL DOCUMENT
Sajian teks lakon Kresna Duta versi Ki Timbul Hadi Prayitno dan analisis struktural
Total View This Week0
Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Yudi, Yudi
Subject
Pedalangan 
Datestamp
2023-10-27 02:50:53 
Abstract :
Lakon wayang kulit purwa Kresna Duta yang dipentaskan oleh Ki Timbul Hadiprayitna yang dituangkan dalam pita kaset rekaman merupakan salah satu ciri dari gaya dan versi lakon wayang dalam tradisi pewayangan Yogyakarta, baik dalam penggunaan bahasa, sulukan, keprakan, gending iringan maupun caking pakeliran. Untuk memperoleh teks wayang Kresna Duta yang dipakai sebagai bahan kajian, dilakukan transkripsi pentas wayang kulit purwa lakon wayang Kresna Duta. Berbagai hal yang berkaitan dengan pementasan lakon wayang Kresna Duta seperti suara dalang yang terdiri atas sulukan, kandha, carita dan pocapan, serta bunyi-bunyi yang menyertai suara dalang yang terdiri atas keprakan, genderan iringan wayang, semua ditranskripsi menggunakan tanda-tanda tertentu sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Penggunaan tanda-tanda itu akan membantu pembaca dalam memahami keseluruhan pentas lakon wayang Kresna Duta. Lakon wayang kulit Kresna Duta ternyata dalam pementasannya berpijak pada patokan-patokan tradisi pewayangan Yogyakarta. Hal itu tampak pada pembagian pathet, jejeran, adegan dan perang yang ada serta unsur-unsur struktur yang lain, seperti deskripsi berbagai suasana, dialog antar tokoh, dan jenis-jenis tindakan sebagai kelanjutan dari peristiwa tertentu, misalnya adegan perjalanan, kesepakatan dan adegan perang. Kajian struktural menunjukan bahwa unsur-unsur struktur lakon wayang Kresna Duta tersebut merupakan kesatuan yang utuh dan padu. Dalam pelaksanaan pementasan lakon wayang Kresna Duta ditemukan adanya bentuk gladhakan yang tidak sesuai dengan patokan tradisi pewayangan Yogyakarta. Bentuk gladhakan dipergunakan oleh Ki Timbul Hadiprayitna sebagai pengganti jejeran pokok. Dalam tradisi pewayangan Yogyakarta gladhakan biasanya dipergunakan sebagai penanda peralihan pathet. Penyajian suluk ada-ada dan lagon baik wetah maupun jugag sebagai deskripsi berbagai suasana lebih banyak dipergunakan dari pada sulukan yang lain, 22 buah suluk ada-ada , 12 buah suluk lagon dari jumlah keseluruhan sulukan, sedangkan penyajian gending iringan semuanya tergolong gending alit. 
Institution Info

Institut Seni Indonesia Yogyakarta