Abstract :
Upacara nyadran dikategorikan upacara ritual, karena hari, waktu, tempat, dan pemimpin upacara terpilih. Khusus pemilihan waktu berdasarkan hitungan Jawa yakni pranata mangsa, dan hari tidak termasuk kala. Setiap nyadran dilaksanakan Janggrung pasti dihadirkan, karena merupakan satu kesatuan yang harus ada dalam setiap peristiwa upacara nyadran.
Janggrung dalam upacara nyadran berfungsi sebagai Ekspresi Emosional, Ungkapan Estetis, Komunikasi, Penggambaran Simbolik, Respon Fisik, Pengesahan Lembaga Sosial dan Ritual Religius, Penyelenggaraan Kesesuaian dengan Norma-norma Sosial, Menjaga Kesinambungan Budaya, dan Penopang Integrasi Sosial.
Persyaratan khusus penari Janggrung dalam upacara nyadran harus ada yang masih perawan suci. Dalam menyajikan Janggrung sebagai persembahan penari wajib menghadap ke arah Pantai Selatan.
Iringan Janggrung menggunakan seperangkat gamelan Jawa, secara instrumentasi tidak menyertakan ricikan lirihan. Gending khusus yang merupakan gending pokok dalam iringan Janggrung ada 5 (lima) yakni: Lung Gadhung, Sekar Gadhung, Sandhung, Cangklek, dan Giro Gangsaran. Penyajian urutan gending pokok tersebut harus runtut sesuai permintaan Juru Kunci Utama kepada penari janggrung (Tledhek), karena hal tersebut bermakna merupakan inisiasi hidup manusia.