Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Ayu Ngurah Kurniawati, l Gusti
Subject
Penciptaan Tari
Datestamp
2023-11-01 08:45:18
Abstract :
Karya tari ini mencoba untuk memvisualisasikan pemahaman tentang tari Berutuk yang d iketahui penata lewat membaca buku karya I Made Bandem dan Fredrik Eugene deBoer terjemahan I Made Marlowe Makaradhwaja Bandem. Berutuk merupakan tarian ritual yang diyakini oleh masyarakat Trunyan sebagai tarian penolak bala. Tari Berutuk biasanya dipentaskan pada saat piodalan pura Pancering jagat tepatnya pada Oda/an Purnama Kepitu (ketujuh) yang jatuh pada Purnama Kepitu, Sasih Kepitu, Tri Wara Beteng, Panca Wara kliwon, dan Sapia Wara Soma.
Penari Berutuk menggunakan kostum dari daun pisang kering (keraras) yang dirangkai menjadi dua rok lebar, d ikenakan pada bagian leher dan pinggang. Selain menggunakan kostum dari daun pisang kering (keraras) penari Berutuk juga menggunakan topeng serta gelungan yang disim pan d i dalam pura. Topeng dan gelungan dikeluarkan dari tempatnya apabi la ada pementasan tari Berutuk pada saat pioda/an pura. Pementasan tari Berutuk bisa batal apabila terjad i kegagalan panen akibat terserang wabah penyakit atau ada yang meninggal karena sakit (sebel). Para penari Berutuk adalah pemuda-pem uda desa yang terpil ih dan mampu menjalankan pantangan-pantangan serta menjalankan tugas-tugas selama ditem patkan secara khusus (dipingit) kurang lebih 6 m inggu atau 42 hari.
Tari yang berdurasi 28 menit ini mengacu pada bentuk dramatik ditarikan sebelas orang penari. Had irnya karya tari ini sebagai bentuk rasa bangga serta kekaguman akan seni budaya yang memiliki nilai sosial tinggi, mengingat predikat pulau Bal i sebagai pulau Dewata, pulau yang kaya akan seni dan budaya.