Abstract :
Keberadaan kesenian Doger merupakan bagian integral dari sistem sosial-budaya masyarakat pendukungnya yang terjalin erat dengan kompleksitas dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Kwangen Kidul, terutama sebagai media komunik:asi estetis dan ritual dalam upacara Bersik Tlaga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dan kelanjutan hidup. Di samping itu Doger juga memiliki fungsi sebagai media hiburan masyarakat Dusun Kwangen Kidul dan sekaligus sebagai media untuk membangun ikatan solidaritas sosial rnasyarakat. Nilai fungsional upacara bersik tlaga tercermin adanya kesetiaan dan ketakutan manusia kepada kekuatan gaib atau supranatural yang ada pada Tuban dan roh-roh nenek moyang atau dhanyang yang menunggu suatu tempat, sehingga kegiatan upacara ritual merupakan perwujudan ungkapan rasa syukur dan mohon perlindungan keselamatan hidup seluruh warga masyarakat dan lingkungannya. Oleh karena itu sebenarnya nilai fungsional kesenian Do-ger dalam upacara ber-sik flaga merupakan strategi masyarakat Dusun Kwangen Kidtil untuk menjaga keseimbangan manusia dan lingkungannya. Upacara .bersik tlaga .dengan menampilkan kesenian Doger adalah kenyataan sosial yang terkait dengan tujua:n untuk memenuhi kebutuhan dan kelanjutan hidup seluruh warga Kwangen Kidul. Keseluruhan kebutuhan hidup itu sudah barang tentu hams diimbangi dengan pelayanan hidup dengan melakukan berbagai macam kegiatan sosial yang berntjuan untuk memuaskan setiap orang secara adil agar tidak terjadi konflik sosial dengan harapan tujuan bersarna dapat tercapai, yaitu masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur yang didukung keseimbangan ekosistem. Dalam kedudukannya sebagai sarana upacara keselamatan, kesenian Doger menyandang fungsi tertentu yang sangat berarti bagi masyarakal yang bersangkutan. Kehidupan budaya pertanian sebagai peletak dasar keberadaan Doger sangat berarti bagi masyarakat petani. Doger sebagai ekspresi sosial budaya, dan juga sebagai bagian integral dati selurnh kehidupan masyarakat petani yang berkaitan dengan hal-hal yang mendasat:, dan pola perilaku masyarakat itu mernpak:an usaha untuk memenuhi kebutuhan komunikasi yang bersifat sakral.