DETAIL DOCUMENT
Penerimaan Diri Dua Orang Kakak Beradik sebagai Penyandang Albino dalam Penyutradaraan Film Dokumenter Observasional "As The Hours Pass"
Total View This Week0
Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Khoirun Sirfefa, Jae
Subject
Televisi 
Datestamp
2024-02-05 02:35:32 
Abstract :
Film dokumenter As The Hours Pass merupakan film dokumenter observasional yang menceritakan tentang kehidupan dua orang kakak beradik penyandang albino yang telah menerima dan berdamai dengan diri mereka sendiri. Terlahir dengan fisik yang berbeda dari orang pada umumnya, keterbatasan-keterbatasan sebagai penyandang albino, serta perjalanan panjang yang telah dilalui pada masa lalu, membuat bentuk penerimaan diri dan cara pandang keduanya sebagai penyandang albino menjadi berbeda. Menampilkan perbedaan kehidupan Yogo dan Yokis, mulai dari pekerjaan, keterbatasan yang dimiliki, status pernikahan, dan bentuk penerimaan diri. Sutradara hadir sebagai observer tanpa mengintervensi dan melihat setiap langkah kehidupan yang dipilih oleh Yogo dan Yokis, sehingga hal tersebut menggambarkan cara pandang hidup dalam menerima diri mereka sendiri. Penolakan Yogo dan Yokis untuk mengikuti sebuah event nasional untuk membantu memperkenalkan desa Wringinputih sekaligus diri mereka sendiri sebagai penyandang albino, menjadi bukti bahwa semua pilihan hidup sepenuhnya dipegang oleh Yogo dan Yokis dalam film ini. Pendekatan dengan gaya observasional dalam film dokumenter ini sangat cocok diterapkan dalam kehidupan Yogo dan Yokis serta keluarganya, dengan sutradara yang tidak masuk ke dalamnya untuk mendramatisir atau menjadi pembatas dari setiap hubungan relasi di antara Yogo dan Yokis dengan orang-orang disekitarnya, namun menjadi jembatan untuk memperlihatkan bentuk penerimaan diri melalui setiap tindakan maupun aktivitas yang mereka lakukan. 
Institution Info

Institut Seni Indonesia Yogyakarta