Abstract :
Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman tentang struktur pertunjukan
wayang kulit purwa berdasarkan nilai-nilai Ke-Islaman yang bersumber dari Kitab Suci
Al-Qur-an, Surat Al-Anbiya?, ayat 107. Pertunjukan wayang ini dikemas dengan cerita
Pandhawa Ngudi Rahayuning Bawana sebagai model struktur adegan yang berbeda
dengan struktur adegan dalam pertunjukan wayang tradisi dalam hal setting tempat,
tokoh peraga, mareri garap, dan lagu pendukungnya. Metode penelitian kualitatif
bersifat deskriptif analitik digunakan sebagai cara dan langkah-langkahnya, sedangkan
pembahasannya menggunakan teori struktur Piaget, yakni bersifat totalitas,
transformasi, dan pengaturan diri. Hasilnya ditemukan, bahwa struktur adegan dalam
pertunjukan wayang kulit purwa dengan cerita Pandhawa Ngudi Rahayuning Bawana
terdiri atas 13 macam adegan dengan setting tempat Kaputrèn Saptaarga, Babak unjal,
Pringgitan Pertapan Saptaarga, Keputrian Saptaarga, Kepatihan Ngastina, Catur Marga,
Pertapan Untarayana, Pertapan Kendalisada, Kasatriyan Kumbina, Kasatriyan
Lesanpura, Margayana, Margapura, dan Margacatur. Adegan-adegan sebagai
perwujudan untuk mengungkapkan sifat-sifat rahmatan lil?alamin, melalui tempat,
tokoh, isi, dan lagu yang ditampilkan dalam suatu pertunjukan, yakni mencari bekal
ilmu tentang religi dan pemerintahan (Yudistira), kemanusiaan (Bratasena), kesatuan
(Premadi), pertanian (Pinten), dan perternakan (Tangsen). Dengan tampilan tempat,
tokoh, isi, dan lagu tersebut, maka tema mencari kedamaian dunia dapat dicapai melalui
proses belajar mengajar oleh Pandawa dengan para guru-gurunya, yakni Resi Abiyasa
(ahli keagamaan dan pemerintahan), Begawan Anoman (ahli kemanusiaan), Resi
Padmanaba (ahli kesatuan), Raden Aryaprabu Rukma (pertanian), dan Raden Ugrasena
(ahli peternakan) yang dirancang dan divisualisasikan dalam pertunjukan wayang oleh
Ki Junaidi.