Abstract :
Film dokumenter etnografi ?Spirit Pohgati? mengangkat tentang Paguyuban Trah Pohgati yang melakukan program konservasi sumberdaya air akibat krisis air bersih yang terjadi di Dusun Suruh, Desa Wonorejo. Upaya tersebut
dipimpin oleh Edi Santoso yang dilakukan bersama sesepuh paguyuban yaitu Katijo dan Adam, seorang mahasiswa yang sedang melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata. Konservasi sumberdaya air dilakukan akibat surutnya sumber mata air dan
mati nya pohon-pohon endemik yang bersifat menyimpan air di Desa Wonorejo.
Selain itu, kegiatan konservasi juga sebagai bentuk pengamalan dari pilar keyakinan Paguyuban Trah Pohgati yaitu hormat alam, hormat leluhur, dan raket paseduluran.
Film ini dibuat dengan metode etnografi dan gaya observasional yang bersifat observasi partisipasi dimana dokumentaris tak hanya mengamati masyarakat yang akan diteliti, namun juga berupaya untuk menyatu dalam
kehidupan sosio-kultural mereka. Pengamatan yang dilakukan meliputi pola perilaku, keyakinan, bahasa lokal, dan nilai kultural yang dianut dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil karya yang telah diwujudkan dapat disimpulkan bahwa konservasi sumberdaya air oleh Paguyuban Trah Pohgati bertujuan untuk
mengembalikan bentuk alam di Desa Wonorejo seperti semua, semata-mata untuk mengamalkan pilar hormat alam, dan demi anak cucu di masa depan. Berdasarkan metode etnografi dalam mengumpulkan data yang diperoleh melalui deep interview
hingga participant observatory sebagai ciri khas dari metode etnografi dengan gaya observasional. Sebagai pembacaan yang lebih luas, permasalahan air hari ini adalah
permasalahan bersama yang perlu ditelaah dari berbagai aspek sebagai upaya melawan perubahan iklim global.