Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Aris Pramana, NIM :0411130 011
Subject
Pengkajian Tari
Datestamp
2017-10-20 08:08:34
Abstract :
Penelitian ini mengupas tentang bentuk penyajian Wayang Grasak Lumaras Budaya, Dusun Petung, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.
Wayang Grasak berasal dari bahasa Jawa yakni wayang dan grasak . Kata
wayang dalam bahasa Jawa Kuna (Kawi) berarti "bayangan" atau "pertunjukan bayangan ". Istilah grasak atau disebut juga brasak berarti ka r, keras, brutal. Dalam Wayang Grasak, istilah grasak divisualisasikan melalui tokoh buta (raksasa) yang identik dengan karakter kasar, keras, brutal. Kata Grasak digambarkan dalam karak:ter buta atau raksasa yang sangat liar atau kasar. Raksasa Cakil memiliki ciri-ciri bermata kriyipan, hidungnya berbentuk haluan perahu mendongak, mulut pada bagian rahang bawah melebihi bibir atas, sedangkan gigi bagian bawah memiliki taring panjang hingga melewati bibir atas yang terletak di hadapan mulut. Metode penelitian ini menggunakan metode diskriptif analisis.
Tema gerak dalam kesenian ini menceritakan tentang aktivitas para buta (raksasa) yang sedang berlatih perang dengan dipimpin dua tokoh Cakil yang berperan sebagai pimpinan. Dalam bentuk penyajiannya para buta atau raksasa tersebut dipimpin oleh panglima perang, yaitu raksasa Cakil (Kolo Marica). Ragam gerak tari gaya Surakarta, mengambil gerak bapang sesuai dengan tokoh yang diperankan yaitu para prajurit raksasa (buta) . Gerak yang sering digunakan dalam kesenian Wayang Grasak pada intinya lebih menekankan pada hentakan kaki (lebih mengeksplor bunyi gongseng atau krincingan).