Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Denny Eko Wibowo, 1011288011
Subject
Pengkajian Tari
Datestamp
2017-11-21 03:16:43
Abstract :
Keberadaan laki-laki yang memerankan sosok perempuan dalam bidang
seni pertunjukan saat ini semakin terlihat dan terbuka. Pemeranan tersebut secara
umum disebut dengan istilah cross gender. Budaya cross gender di Jawa sudah
ada sejak zaman dulu, terbukti dengan keberadaan abdi dalem bedhaya kakung
yang pernah ada di masa Sultan Hamengku Buwono V. Didik Hadi Prayitno
sebagai seniman cross gender mengaktualisasikan kembali eksistensi penari
bedhaya kakung tersebut dalam Bedhaya Hagoromo. Bedhaya Hagoromo adalah
karya tari yang memadukan konsep tari bedhaya Jawa dengan lakon Hagoromo
dari drama Noh Jepang. Bedhaya Hagoromo memuat simbol-simbol dari bedhaya
tradisi dan drama Noh.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna-makna simbolis yang
terdapat pada Bedhaya Hagoromo. Peneliti menggunakan pendekatan antropologi
(hermeneutik) dalam membedah simbol dan berbagai tafsiran maknanya. Peneliti
adalah participant observer yang melakukan aktivitas observasi, studi pustaka,
wawancara, dan pendokumentasian guna melengkapi data yang disajikan.
Bedhaya Hagoromo merupakan karya tari kolaborasi yang memuat
simbol-simbol dari konsep bedhaya, unsur lakon Hagoromo, dan penyajian yang
dipengaruhi atas gaya personal Didik Hadi Prayitno. Konsep bedhaya tradisi yang
dipertahankan sebagai pemahaman terhadap dualisme dalam satu keutuhan,
menjadi dasar simbolis bedhaya. Unsur lakon Hagoromo yang diwakili oleh
keberadaan topeng, kipas, isi cerita menyimpan simbol yang berasal dari budaya
asalnya. Pengaruh gaya personal Didik Hadi Prayitno muncul dalam penyajian
tari Bedhaya Hagoromo. Simbol-simbol yang terdapat pada hal-hal yang bersifat
kebendaan (tekstual) terwujud dalam tata rias-busana, pola lantai (rakit), aspek
iringan tari, dan properti tari seperti topeng dan kipas. Gaya asertif Didik Hadi
Prayitno juga memunculkan perilaku-perilaku simbolis yang menyertai selama
proses persiapan menuju pementasan tari Bedhaya Hagoromo seperti tumpengan,
nyekar, sembahyang ke vihara, dan memasang jimat.
Kata kunci : makna simbolis, Bedhaya Hagoromo, gaya asertif.