DETAIL DOCUMENT
Hyang Sitawaka
Total View This Week0
Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Mareta Dwi Mur Shella Sari, 1311436011
Subject
Penciptaan Tari 
Datestamp
2018-07-26 03:35:10 
Abstract :
Pemimpin sebuah kerajaan biasanya adalah seorang laki-laki, berbeda dengan yang terjadi di kerajaan Matswapati yang memiliki raja seorang perempuan yang bernama Sitawaka.Sitawaka merupakan titisan dari Sang Hyang Betari Sri prameswari dari Sang Hyang Betari Wisnu. Sitawaka merupakan sosok perempuan yang mempunyai jiwa kepemimpinan serta kharisma yang tinggi, kecakapannya dalam memimpin Negara dan keberaniannya dalam mengawal Nuswantara, sehingga negara-negara lain (kerajaan yang menginduk atau kadipaten) akan sukarela menginduk di bawah sang pemimpin. Karakter ini yang kemudian menjadikan Sitawaka ratu di kerajaan tersebut dan menjadi panutan bagi rakyat yang ada di Arcapada. Karya ini diberi judul Hyang Sitawaka dalam bahasa sansekerta Hyang artinya memuliakan sedangkan Sitawaka sita artinya baik dan waka artinya api. Apabila diartikan nama Hyang Sitawaka diartikan suatu gejolak spirit yang membara dalam memuliakan seorang pemimpin yang menjadi panutan dalam sebuah kerajaan dan rakyatnya di Arcapada. Lahirnya kembali Sitawaka sebagai titisan Betari Sri dan kemudian dinobatkan menjadi seorang ratu di sebuah kerajaan Matswapati mendapatkan berbagai permasalahan yang mengakibatkan terjadinya perang antara pengawal Sitawaka dan para pasukan butho yang hendak menyarang daerah Nuswantara. Sebagai pertahanan untuk melawan para pasukan butho pasukan Sitawaka di bekali ilmu bela diri pencak silat, gerak-gerak pencak silat tersebut berpijak pada salah satu pencak silat yang ada di Palembang tepatnya di daerah Sebalik yaitu silat kuntau sebalik. Gerak tersebut kemudian menjadi pijakan gerak dasar pada karya ini dengan berfokus pada posisi kuda-kuda, sikap dan gerak, serta langkah 5 pancer. Sosok Sitawaka yang tegas sebagai seorang pemimpin akan ditransformasikan kedalam tubuh sebagai instrument tari dan disajikan dalam bentuk koreografi kelompok dengan Sebelas penari terdiri dari tujuh penari perempuan dan empat penari laki-laki. Pemilihan jenis kelamin yang berbeda sebagai pembeda antara pasukan butho dan pasukan Sitawaka. Tujuh penari perempuan merupakan prajururit yang dibawa Sitawaka, sedangkan Lima penari laki-laki merupakan para musuh yang hendak menyerang daerah Nuswantara yang dikemas dalam sajian bentuk dramatik. Kata Kunci : Memuliakan, Kuntau Sebalik, Sitawaka 
Institution Info

Institut Seni Indonesia Yogyakarta