Abstract :
Masjid indrapuri merupakan sebuah masjid yang terletak di kecamatan Indrapuri
kabupaten Aceh Besar, Aceh. Sebelum ajaran Islam masuk di Aceh, bangunan ini diduga
sebagai candi Hindu milik kerajaan yang oleh orang arab disebut sebagai Lamuri dan disebut
Lambri oleh Marcopolo. Di masa Sultan Iskandar Muda, bangunan candi ini dirombak
menjadi masjid. Puncak perkembangan kerajaan Aceh terjadi pada masa Sultan Iskandar
Muda (1607-1637). Masa pemerintahan Sultan ini merupakan masa kejayaan kerajaan Aceh,
baik politis maupun ekonomi. Pada masa ini banyak dibangun masjid sebagai tempat
beribadah umat Islam. Ekspansi-ekspansi teritorial di daerah-daerah tetangga dilakukannya.
Dari tahun 1612-1621, ia telah berhasil menaklukkan sejumlah kerajaan pantai di sekitar selat
malaka dan di pantai bagian barat pulau Sumatera. Sepulangnya dari Malaka, dibangunlah
masjid Indrapuri diatas reruntuhan Candi tersebut. Pondasi Candi yang bertingkat di
robohkan hingga tingkatan ke empat. Di tingkat ke empat inilah tiang-tiang masjid didirikan.
Banyaknya kebudayaan yang masuk dan berkembang di Aceh, membuat penulis
tertarik untuk meneliti akulturasi budaya yang terdapat pada masjid Indrapuri tersebut.
Keunikan letak masjid Indrapuri yang dibangun diatas Candi Hindu itu juga membuat penulis
ingin mengetahui bagaimanakah interior masjid Indrapuri tersebut ditinjau dari mihrab dan
mimbar, ruang utama dan ornamen.
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa masjid ini merupakan akulturasi dari
budaya Hindu dengan budaya tradisional Aceh. Kebudayaan hindu dapat terlihat dari denah
masjid, atap, lantai, dinding, dan mihrab masjid. Sedangkan kebudayaan Aceh dapat terlihat
dari dinding, tiang dalam masjid, dan plafon.