Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Ditta Novita Astuti Kusumo, NIM : 1011316011
Subject
Pengkajian Tari
Datestamp
2022-11-22 09:04:01
Abstract :
Bedaya merupakan artefak hidup yang lahir, tumbuh, dan berkembang
dilingkungan aristokrat, baik di Keraton Surakarta, Keraton Yogyakarta, Kadipaten
Mangkunegara, dan Kadipaten Pakualaman. Bedhaya Bedhah Madiyun Gaya
Yogyakarta lahir pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII.
Bedaya ini telah kehilangan gaungnya semenjak terakhir direkonstruksi pada tahun
1987, sehingga pada Juni 2014 bedaya tersebut berhasil direkonstruksi kembali.
Awal penelitian ini dilakukan pencermatan terhadap teks Bedhaya Bedhah
Madiyun Gaya Yogyakarta, sebagai objek material. Bedaya yang merupakan
artefak hidup tidak akan lepas dari sebuah struktur tari yang membentuknya.
Struktur itu dibentuk oleh teks dan konteks yang berkaitan dengan terbentuknya
Bedhaya Bedhah Madiyun. Bedasarkan penelitian ini, digunakan cara pandang
Janet Ashead mengenai metode analisis yang terdiri dari empat tataran metode,
yaitu (1) Discribing (mendiskripsikan tarian) (2) Discerning (mengkaitan
koreografi dalam komponen-komponen tari ) (3) Interpreting (interpretasi) dan (4)
Evaluating (evaluasi). Analisis koreografi menggunakan konsep-konsep yang
dikemukakan oleh La Meri, dan konsep tari Jawa, khususnya gaya Yogyakarta.
Diperkaya dengan konsep-konsep koreografi lainnya.
Melalui pendekatan analisis koreografi ditemukan, hal unik yakni pada
aspek gerak dan pola lantainya. Ditemukan suatu kenyataan bahwa motif gerak
gudhawa tampak khas dalam struktur geraknya. Motif ini tidak lazim ditemukan
pada bedaya lainnya. Beberapa pola lantai pada bedaya ini tampak khas, karena
terdapat pola lantai dua garis berbanjar saling berhadapan dan terdapat dua garis
mendatar saling berhadapan secara horisontal, pola lantai tersebut yakni rakit baris
dan rakit gelar.