Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Luvita Pradana Puspitasari, 101128101
Subject
Pengkajian Tari
Datestamp
2015-10-23 00:31:22
Abstract :
Kabupaten Sleman memiliki 251 paguyuban kesenian jatilan yang di
dalamnya terdapat ruang yang bebas untuk berekspresi dengan menampilkan
kreativitas masyarakat. Salah satu bentuk kreatifitas yang saat ini sedang berkembang
adalah tari ?Rampak Buta? yang memiliki ciri khas berbeda dengan kesenian jatilan.
Pada tahun 1990-an hingga saat penelitian ini dilakukan, diketahui bahwa penari
?Rampak Buta? mayoritas adalah laki-laki berkenaan dengan tenaga yang sangat kuat.
Pada tahun 2012 muncul kelompok Rampak Buta Krincing Manis yang
memberikan suguhan tari Rampak Buta dengan mayoritas penari perempuan.
Kehadirannya tidak serta merta diterima masyarakat, banyak kritik dan diskriminasi
yang diterima namun pada akhirnya kelompok Krincing Manis dapat bertahan dan
menjadi pelopor kelompok Rampak buta putri pertama di Daerah Istimewa
Yogyakarta.
Kelompok Krincing Manis menampilkan inovasi serta pembaruan dari segi
garap koreografi yang berbeda dengan Rampak Buta putra pada umumnya. Penelitian
ini dilakukan dengan metode pendekatan Analisis Koreografi dengan meliputi aspek
penari, aspek gerak, aspek waktu, aspek ruang, struktur penyajian, tata rias busana,
dan musik pengiring. Kelompok ini menjadi wujud emansipasi wanita yang saat ini
mulai dilupakan masyarakat.