Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Hariyo Seno Agus Subagyo, 1220658411
Subject
Penciptaan dan pengkajian seni
Datestamp
2015-11-16 04:20:19
Abstract :
Pemilihan umum 2014 merupakan pertarungan pencitraan di dunia maya.
Terbukti dengan beredarnya berbagai macam kampanye yang dilakukan dengan
sengaja. Dengan tujuan untuk membentuk opini masyarakat mengenai citra calon
legislatif atau calon presiden yang diusung. Sehingga masyarakat tertarik dan
memilih kandidat yang ditawarkan. Popularitas merupakan kunci meraih suara
sebanyak-banyaknya, untuk itu maka dicarilah figur populer dikalangan artis.
Dengan demikian artis-artis ternama menjadi incaran partai politik untuk direkrut
bergabung kedalam kelompoknya. Sehingga banyak diantaranya naik ke
panggung politik karena kemolekan dan kepopuleran pribadinya, bukan karena
kepandaian manajemen ketatanegaraan. Masa lalu artis yang glamour dipoles
sedemikian rupa sehingga nampak menjadi pribadi yang santun, berbusana sopan,
religius dan bermartabat.
Repetisi pencitraan merupakan respon terhadap politik pencitraan. Dalam
tulisan ini peristiwa didekontruksikan, sehingga teks melahirkan beragam makna
yang mungkin bertentangan satu dengan yang lain. Maka dekontruksi membuka
ruang bagi perbedaan, konflik, ragam makna desiminasi, dan konteks tanpa batas.
Dengan demikian pemahaman tentang pencitraan politik dapat dikupas dalam
makna yang berbeda dari makna yang diharapkan sebelumnya. Berbicara
pencitraan tidak mungkin terlepas dari figur atau tubuh sebagai representasi dari
citra, dimana tubuh ditempatkan sebagai medium terbuka. Suatu kondisi yang
mengabsahkan diri bahwa orang di luar tubuh itu bisa turut berpartisipasi. Bahkan
melebur dan membentuk peristiwa aktual di ruang artistik. Sehingga ruang aktual
adalah ruang artistik, waktu imaterial menjadi waktu nyata.
Dalam karya seni video ini menampilkan seorang artis yang mampu bermetomorphosis
menjadi elegan dalam waktu yang singkat, keluar dari citra masa
lalu dan membuat pencitraan baru yang sama sekali berbeda. Namun demikian
absurditas masa lalu tidak mungkin dapat dihapus begitu saja. Karena jejak-jejak
masa lalu sudah terlanjur dipahat di dinding maya internet. Sehingga
metamorphosis citra elegan itu menjadi naif dan cenderung sebagai pencitraan
semu.