Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
l Al Qadhariani, Syarifah Lail
Subject
Penciptaan dan pengkajian seni
Datestamp
2021-08-07 03:47:54
Abstract :
Pada Alam Melayu, seorang Raja yang berkuasa harus memiliki
keutamaan sifat mengayomi, simbolisasi sifat mengayomi di dalam
lakon Makyong lebih terwakili dengan perempuan, sebetulnya
perempuan didalam Makyong itu bukan dinilai secara fisik, itu hanya
sebuah simbol yang melekat didalam jiwa seorang Raja Rahim ibu
adalah rahim yang bertabiat melindungi dan memagari serta memelihara.
Perempuan di melayu juga sangat ditakuti, karena ada sebuah keyakinan
bahwa doa dan kutukan seorang wanita / ibu lebih mudah dikabulkan
ketimbang laki-laki. Kesaktian semacam ini adalah bentuk metafora
paradoks terhadap realita yang terjadi sekarang.
Keputusan laki laki untuk pergi berburu dan berperang sementara
perempuan tinggal dirumah bersama anak anak tentu saja memberikan
akses yang lebih mudah bagi laki-laki mendapatkkan segala informasi
pengetahuan, politik, sosial, kekuasaan dan kesempatan daripada
perempuan. Hal tersebut terkonstruksi selama beratus-ratus tahun
lamanya sehingga muncul kesenjangan, ketimpangan nilai antara lakilaki
dan perempuan. Sebuah paradigma mengenai Raja / pemimpin
seharusnya laki-laki, sementara perempuan yang kodratnya telah
memiliki rahim dan payudara adalah akar dari segala subordinasi
perempuan. Perempuan seolah tidak memiliki kesempatan dan
kekuasaan yang sama seperti laki-laki dizaman perang.
Penciptaan karya post dramatik Makyong berangkat dari situasi
yang sederhana, yaitu tentang perempuan dan laki-laki yang sedang
bertukar peran secara wajar dengan unsur alam dan reaksi penonton yang
hadir secara alami untuk melengkapinya. Bahasa-bahasa visual yang
singkat dan padat serta adanya unsur postdramatik adalah pilihan yang
tepat dan minimalis untuk sebuah pertunjukan di era pandemi sekarang
ini.