Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Tri Anggoro, NIM: 0911252011
Subject
Penciptaan Tari
Datestamp
2015-11-19 07:06:46
Abstract :
Rerahsa merupakan sebuah karya tari kelompok yang ditarikan tujuh orang
penari putra. Tari ini merupakan penuangan ide serta kreativitas dari rangsang
kinestetik dan rangsang gagasan yaitu pengalaman empiris penata tari yang pernah
berproses dengan tuna daksa sehingga menginspirasi penata tari untuk mengangkat
tokoh pewayangan yaitu Gareng dengan dasar gerak yaitu gerak tidak wajar (cacat)
dalam dasar tari tradisi Jawa gaya Yogyakarta. Fokus karya ini lebih kepada esensi
gerak cacat dan lebih memainkan ekspresi. Alasan penata tari mengambil tokoh Gareng
karena Gareng ini merupakan salah satu simbol contoh kepemimpinan yang dapat
memberikan contoh baik kepada generasi penerus saat ini, karena cacat fisik bukanlah
hal yang memalukan, justru dapat memotivasi hidup untuk menjadi lebih baik. Menurut
penata tari, dari masa ke masa seorang pemimpin sudah tidak lagi memiliki watak/sifat
seperti tokoh Gareng, sehingga menjadi salah satu motivasi penata untuk menggarap
karya Rerahsa ini.
Pada karya ini terdiri dari 3 adegan. Pada introduksi penata tari membicarakan
Gareng sebagai abdi/pamong. Pada adegan 1 lebih fokus kepada studi gerak gareng
dengan berbagai karakter, sedangkan adegan 2 membicarakan 3 poin, yaitu Gareng
yang lupa akan titahnya sebagai pamong, membicarakan ketika Gareng menjadi Raja,
dan imajinasi Gareng terhadap wanita pujaannya yaitu Dewi Saradewati. Pada adegan
3, penata membicarakan sosok Gareng yang kembali ke perenungan dan berintrospeksi
diri.
Diharapkan dengan adanya karya cipta tari ini, masyarakat dan penonton dapat
mengerti dan memahami bahwa janganlah memandang orang sebelah mata, jangan
melihat dari segi fisik, namun lihatlah orang dari hatinya, sebagaimana yang
digambarkan oleh sosok Gareng ini.