Institusion
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Author
Ammy Aulia Renata Anny, 1111335011
Subject
Pengkajian Tari
Datestamp
2015-11-20 04:31:06
Abstract :
Ritual Sêblang Olehsari adalah salah satu upacara yang ada di Kabupaten
Banyuwangi Jawa Timur, dimana tari memiliki fungsi penting sebagai media di
dalam ritualnya. Secara etimologi kata Sêblang berasal dari bahasa Osing
merupakan akronim dari kata sêbêlé ilang yang artinya membuang sial, dan
diperkirakan ritual ini muncul pertama kali di daerah Bakungan sekitar tahun
1770-an. Ritual Sêblang Olehsari diselenggarakan setelah hari raya Idul Fitri dan
dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut. Prosesi diawali dari tahap kejiman,
rapat desa, macaki gênjot, selamêtan, menyiapkan sesaji, membuat Omprok dan
pelaksanaan ritual. Pada hari ketujuh dilakukan prosesi Idêr bumi (mengelilingi
desa) dan keesokan harinya diadakan upacara Ngêlungsur atau siraman.
Penelitian ini menggunakan perspektif etnokoreologi yakni sub disiplin ilmu
antropologi, yang mempelajari tarian dari berbagai suku bangsa dengan
pendekatan multidisplin atau interdisiplin. Perspektif etnokoreologi menekankan
pada cara pandang yang bersifat emik, perspektif emik, etik dan holistik pada
etnografinya, serta perspektif komparatif dalam analisisnya. Objek materialnya
adalah ritual Sêblang dan proses ritual penari Sêblang sebagai subjek ritual,
sedangkan objek formalnya adalah analisis proses ritual berdasarkan teori Victor
Turner.
Fokus dalam penelitian ini adalah mengamati dan menganalisa bagaimana
proses yang dialami oleh subjek ritual selama menjalani proses ritual Sêblang
Olehsari. Dasar teori yang digunakan adalah proses ritual yang dialami subjek
ritual terdiri dari tahap separasi, liminalitas, dan reagregasi. Teori tersebut
disimpulkan oleh Turner berdasarkan hasil analisisnya tentang ritus yang ada di
Ndembu Zambia. Dalam ritual Sêblang Olehsari ini subjek mengalami proses alih
wahana atau bertransformasi menjadi ?peran yang lain? dalam keadaan trance.
Proses separasi, liminalitas, dan transformasi dalam ritual Sêblang berputar dan
berjalan terus menerus tanpa terputus selama tujuh hari, kemudian diakhiri dengan
ritual Ngêlungsur sebagai tahap reagregasi. Hal ini menyebabkan tahap dan skema
proses ritual yang digambarkan dalam ritual Sêblang berbeda dengan apa yang
disimpulkan Turner.