Abstract :
?Tangi po Turu? berasal dari bahasa jawa yang memiliki arti tangi berarti bangun, po (tembung opo) berarti atau, dan turu berarti tidur, maka bila terjemahkan menjadi bangun atau tidur. Pemilihan judul tersebut dirasa dapat merepresentasikan fenomena begadang memiliki dua efek yang berbeda terhadap aktivitas dan produktivitas di pagi harinya. Dimana terdapat kondisi yang masih sanggup bangun pagi hari dan yang kesulitan untuk bangun pagi.
Metode penciptaan yang digunakan dalam pembentukan komposisi musik etnis ini menggunakan 3 tahapan dari Alma M. Hawkins dalam bukunya yang berjudul Mencipta Lewat Tari yaitu, Eksplorasi, Improvisasi, dan Pembentukan yang penulis sadari bahwa tahapan-tahapan tersebut juga ada di dalam proses penciptaan karya music etnis. Metode tersebut juga didukung dari teori Edward Thorndike mengenai trial and error.
Fenomena begadang di atas yang merangsang penulis untuk membuat sebuah komposisi musik etnis serta menjadi ide gagasan impresi ekstramusikal yang ditransformasikan ke dalam bahasa musikal. Dengan demikian penulis menjadikan ?Tangi po Turu? sebagai judul dari karya komposisi musik etnis ini yang diangkat dari fenomena sosial habitus begadang dalam komposisi musik etnis gamelan jawa.
Kata Kunci: Tangi po Turu, ekstramusikal, habitus, etnis.