Institusion
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Author
ISTIYANI WAHYUNINGSIH, NIM. 96121881
Subject
Kebudayaan Islam
Datestamp
2016-12-20 03:45:06
Abstract :
Pakaian merupakan benda budaya hasil karya manusia yang merupakan
pengejawantahan dari nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat. Makna berpakaian
tidak lagi hanya sekedar penutup badan namun berkembang ke nilai estetika. Di
Indonesia, studi tentang pakaian dalam kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat
masih kurang mendapat perhatian baik dari segi sosiologi, antropologi maupun
sejarah. Salah satu yang menarik untuk dikaji adalah busana Abdi Dalem Keraton
Yogyakarta terutama yang mengabdi di Makam Imogiri. Makna-makna simbolik
dalam tata busana juru kunci Makam Imogiri dapat ditangkap dari adanya benang
merah dengan nuansa agamis, politis dan ekonomis.
Kajian dalam skripsi ini bertujuan antara lain untuk:
1. Mengetahui keadaan Kesultanan Yogyakarta masa HB IX (1940-1988),
2. Menjelaskan seluk beluk Abdi Dalem Juru Kunci Makam Imogiri Kesultanan
Yogyakarta,
3. Memberikan gambaran tentang tata busana Abdi Dalem Juru Kunci Makam
Imogiri Kesultanan Yogyakarta, dan
4. Menjelaskan makna-makna simbolik dalam tata busana tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode historis, yaitu suatu proses
menguji dan menganalisis data yang diperoleh secara kritis terhadap rekamanrekaman
dan rekonstruksi masa lalu sehingga hasilnya dapat mendekati kenyataan
sedekat mungkin. Metode historis ini menggunakan empat tahapanyang saling
berkaitan, yaitu heuristic, verifikasi atau kritik sumber, interpretasi dan historiografi.
Kesimpulan yang didapat dari kajian ini antara lain:
1. Keratin Yogyakarta termasuk kerajaan yang bersifat ketimuran yang menganut
konsep keselarasan antara urusan politik, ekonomi, social dan agama. Di Keraton
Yogyakarta, keselarasan ini diungkapkan dalam gelar yang secara tradisional
selalu dipakai oleh raja-raja Yogyakarta. Begitu juga dengan busana yang
dikenakan baik oleh para pejabat di Keraton maupun oleh para Abdi Dalem
terutama Abdi Dalem dan Juru Kunci di Makam Keraton Yogyakarta di Imogiri.
2. Dalam rangka hidup sederhana dan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi
maka pihak Keraton Yogyakarta perlu menyederhanakan tradisi berbusana serta
alat-alat perlengkapan yang diperlukan sepanjang tidak mengurangi makna yang
pokok dan nilai-nilai luhur yang ada.