Abstract :
Beragamnya pendapat dikalangan ulama yang disebabkan oleh perbedaan pemahaman terkadang memicu konflik yang juga disandarkan pada fanatisme madzhab. Demikian pula yang terjadi pada pemahaman pengertian Khatamu Nubuwwati Muhammadin diantara mirza Ghulam Ahmad dan Wahbah az Zuhaili yang berasal dari dua aliran-madzhab yang berbeda.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapat kedua mufassir tersebut tentang pengertian Khatamu Nubuwwati Muhammadin. Di samping itu, untuk kemudian dapat mengetahui perbandingan pendapat keduanya tentang variabel tersebut berdasarkan penafsiran ayat al Quran dari keduanya.
Penelitian ini bertumpu pada persoalan kekaburan pemahaman mengenai arti khatam an Nabiyyin yang terdapat pada surat al Ahzab ayat 40, yang artinya Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan khatam an Nabiyyin. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Kalimat penutup para Nabi adalah terjemahan dari ayat khatam an Nabiyyin. Ada dua bacaan untuk ayat itu. Pertama, khatam an Nabiyyin yang artinya cincin para nabi. Kedua, khatim an Nabiyyin, pengunci atau penutup para nabi.
Bacaan yang pertama tidak jelas-jelas menerangkan bahwa Muhammad adalah nabi terakhir. Hanya bacaan yang kedua yang mendukung pengertian seperti itu. Karena ambiguitas seperti inilah, Jamaah Ahmadiyah yang di pimpin oleh Mirza Ghulam Ahmad misalnya, memaknai ayat ini sebagai argumen pendukung bahwa kenabian belum selesai. Hal tersebut merupakan salah satu hal pemicu konflik eksternal dengan aliran (mufassir) yang lain. Untuk mengetahui masing-masing perbedaan pendapat dari pembahasan di atas, maka dilakukan sebuah kajian yang berhubungan dengan ayat-ayat al Quran tentang Khatamu Nubuwwati Muhammadin.
Penelitian ini dilakukan dengan metode analisa diskripsi yang berbasis pada penelitian pustaka (Library Research). Yakni dengan menggambarkan secara detail pendapat keduanya mengenai Khatamu Nubuwwati Muhammadin melalui penafsiran mereka dalam kitab tafsir karya dari keduanya. Kitab al Tafsir al Munir fi al Aqidah wa as Syariah wa alManhaj karya Imam Wahbah Ibn Musthofa az Zuhaili dan Kitab al Quran al Adzim karya Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian dilakukan analisa untuk membandingkan persamaan dan perbedaan pendapat keduanya mengenai Khatamu Nubuwwati Muhammadin.
Data yang ditemukan menunjukkan bahwa pendapat mereka mengenai Khatamu Nubuwwati Muhammadin berbeda, karena adanya perbedaan pemahaman terhadap konteks kalimat dan perbedaan madzhab yang dianut keduanya. Dimana Mirza Ghulam ahmad berpandangan dalam tafsirnya, bahwa Nabi Muhammad bukan Nabi terakhir, tetapi Nabi yang paling utama diantara para nabi. Sedangkan, Wahbah Zuhaili mengatakan Beliau adalah Nabi terakhir.