Abstract :
Skripsi ini merupakan hasil dari peneltian kepustakaan (Bibliographic Reseach) untuk menjawab dua pertanyaan penelitian sebagai berikut : Pertama, bagaimanakah pandangan KH.A. Wahid Hasyim mengenai relasi agama dan negara? Kedua, bagaimanakah relevansi pemikiran KH.A. wahid hasyim tentang relasi agama dan Negara dengan kondisi saat ini?
Data penelitian ini keseluruhannya diperoleh dan dihimpun melelui pembacaan dan kajian kepustakaan teks (text reading) dan kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kemudian kesimpulannya diambil melalui teknik analititis, dengan pola pikir deduktif dan hermeneutika.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa KH. A. Wahid Hasyim merupakan pemikir progresif dan dinamis. Sebagai agamawan, ia konsisten dalam pemikiran keislaman. Sebagai negarawan, ia megutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Pengorbanan yang layak dicatat adalah, meskipun ia memperjuangkan Islam sebagai dasar negara dengan mendukung pencantuman tujuh anak kalimat dalam Piagam Jakarta, namun ia rela menghapus tujuh kata itu, demi mengutamakan persatuan dan keutuhan bangsa. Dalam khazanah keilmuan politik Islam, ia tergolong pemikir substansialis yang mendukung relasi agama dan negara dalam corak relasi simbiotik. Hingga kini, pemikiran puluhan tahun lalu itu tetap relevan diimplementasikan dalam konteks beragama, berbangsa dan bernegara.
Tak cukup hanya membaca dan mengkaji pemikiran KH.A. Wahid Hasyim, yang lebih penting adalah mengaplikasikan gagasan-gagasan KH.A.Wahid Hasyim dalam konteks keislaman dan keindonesiaan. Pribadi, jejak langkah dan perjuangan KH.A. Wahid Hasyim, sebagai tokoh besar, layak untuk diteladani. Dalam konteks kepustakaan, penelitian yang secara intens mengkaji pemikiran KH.A. Wahid Hasyim masih langka, alangkah bagusnya jika kemudian ada penelitian tentang gagasan-gagasan KH.A. Wahid Hasyim di berbagai bidang. Sebab, meskipun tokoh berpengaruh, penelitian yang dilakukan untuk mengkaji pemikiran KH.A.Wahid Hasyim masih minim.